Jumat, 02 September 2016

Kumpulan Cerpen Pemanang Lomba Cerpen Anak




Langit Jingga Ibu
Cerpen Ayesha Kamila Rafifah
Rinai-rinai hujan tersingkap
Gerimis minggir mengucap permisi
Awan-awan hitam bergerak
Berarak meninggalkan kampung
Dalam keheningan aku menatap
Sinar jingga kemerahan lembut
Menyongsong roda hidup baru
Yang bahagia, bahagia, selamanya.
***
“Ibu?” Aku melongokkan kepala ke dalam bilik dapur yang sempit. Ibu sedang sibuk mengukus kue-kuenya ketika menoleh padaku dengan tatapan bertanya.
“Tempat pensilku yang lama sudah rusak. Bisa tolong belikan yang baru?” Aku mengangkat tempat pensil putihku yang sudah kecokelatan, memperlihatkan bagian resletingnya yang rusak.
Ibu tersenyum kecut. “Belum bisa, Sayang. Uang yang kita punya habis untuk biaya sekolahmu dan adikmu. Lagipula, kemarin kan kamu sudah dibelikan tas baru,” ujar beliau, menata beberapa kue ke tampah —nampan besar yang biasa digunakan ibu untuk menjajakan kuenya.
“Tapi teman-teman Rieska banyak yang sering gonta-ganti tempat pensil! Lagipula wajar dong Rieska minta dibelikan lagi tempat pensil, yang satu ini rusak resletingnya,” balasku kesal, menunjukkan resleting tempat pensilku.
“Nanti ya, Nak. Sekarang pakailah dulu tempat pensil yang ini. Kalau ada uang akan langsung Ibu belikan,” kata ibu menatapku. Aku mendesah kesal, berbalik arah, lalu masuk ke kamar tidurku dan adikku.
Namaku Rieska Alvani, dan aku punya keluarga yang begitu miskin.
 
***
“Lho, masih belum diganti, Ries?” tanya Qiran, memiringkan kepalanya menatap tempat pensilku. “Kamu belum bilang kepada ibumu?”
“Oh, sudah kok,” jawabku buru-buru. “Katanya besok mau dibeli. Aku sudah pesan dibelikan yang gambar Hello Kitty lho, yang kantongnya ada dua. Keren banget, deh!” tambahku berbohong, berusaha kelihatan ceria.
“Wah, iyakah? Nanti aku juga mau deh yang seperti itu,” Qiran tampak berpikir. Aku tertawa kecil, buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum Qiran membahas lebih banyak lagi.
Huh, gara-gara ibu, aku terpaksa harus berbohong pada Qiran. Kenapa sih ibu sebegitu pelitnya sampai membelikan tempat pensil saja tidak bisa?
Namaku Rieska Alvani, dan aku adalah sang pemakai topeng.
***

Aku melangkah gontai memasuki pekarangan rumah. Kutendang satu-dua kerikil yang menghalangi, membuat batu abu itu terlontar-lontar kecil, lantas terjatuh di selokan kering.
“Baru pulang, Nak?” suara khas ibu menyapaku dari pintu depan.
Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sekadarnya lalu masuk rumah. Kulempar tasku ke atas kursi, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ketika keluar kamar mandi, kulihat ibu sedang berdiri di teras, bersandar pada salah satu tiang rumah. Tatapannya lurus ke atas, sama sekali tak bergerak. Aku mengikuti arah pandangannya. Langit di luar jingga kemerahan, sinar mataharinya tidak menyengat seperti saat siang hari. Malah sebaliknya, seperti menentramkan perasaan. Awan-awan tipis bergerak perlahan melintasi semburat itu. Langit sesaat tidak berwarna biru, melainkan jingga, tampak sekilas seperti emas.
Ibu terus berdiri di situ, terdiam sampai perlahan langit menggelap, matahari tenggelam di antara tumpukan awan dan lenyap di balik bangunan-bangunan kampung. Ibu berbalik, lalu tersenyum melihatku sedang memperhatikan beliau.
“Indah langitnya ya?” ujar ibu, tersenyum sekilas lantas berbelok ke kamarnya.
Aku mengernyit. Untuk apa ibu menonton langit? Tidak berguna. Aku tidak suka hal-hal aneh. Dan aku tidak mau tahu tentang itu.
Namaku Rieska Alvani, dan aku tak suka ketika ibu mulai menonton langit jingga kemerahan yang tak berarti apa-apa.
***
“Ini lagi?” aku berdecak kesal ketika lagi-lagi ibu menyorongkan sepiring nasi dengan tempe kepadaku. Rasanya aku sudah ribuan kali menjumpai lauk ini.
“Iya. Akhir-akhir ini pembeli kue di pasar agak menurun, Ries. Pesanan kue dari ibu-ibu kampung juga tidak begitu banyak,” ibu mengusap tangannya yang basah dengan handuk. “Kalau ada rezeki, nanti Ibu buatkan makanan yang enak,” tambahnya sembari duduk di sebelahku dan adikku, Laira, kelas 2 SD. Memang selama ini ibulah yang bekerja menafkahi kami, setelah ayah meninggal 3 tahun yang lalu.
“Dari kemarin jawabannya ‘kalau ada rezeki’ terus! Rieska bosan!” sanggahku.
“Rieska, bukannya kemarin Ibu sudah membelikanmu tas baru, seperti yang kamu minta? Banyaklah berdoa, agar kita diberi rezeki yang banyak dan Ibu bisa belikan kalian perlengkapan sekolah, makanan yang enak, dan semua permintaan kalian,” balas ibu, mengernyitkan alisnya.
“Rieska sudah berdoa! Sudah berdoa! Tidak pernah dikabulkan!” bantahku, mendorong keras kursi meja makan agar aku bisa berdiri. Aku berjalan masuk ke kamar, membanting pintu. Menangis dalam serat-serat kain bantal yang lusuh, berharap aku bisa tertelan dalam kapas ranjang kecil di rumah kecilku ini.
Namaku Rieska Alvani, dan aku sungguh ingin menghilang dari dunia ini.
***
Sudah pukul 5 lewat. Dan ibu belum pulang juga.
Kuketukkan jemariku ke atas meja kayu tempat kami makan bersama selama ini. Adikku duduk di depanku, menatapku penuh tanda tanya dan khawatir. Sayangnya aku tidak mahir menenangkannya. Biasanya ibu yang selalu menemani Laira kalau dia sedang sedih. Aku memang kakak yang payah. Ah, lagipula, bagaimana mau menenangkannya jika aku sendiri juga dalam keadaan kalut?
Berkali-kali aku keluar masuk rumah, mengintip dari teras berharap melihat sosok ayunya sedang berjalan di jalan setapak perkampungan ini. Tapi ibu tak kunjung datang.
Menjelang maghrib, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kusuruh Laira untuk menjaga rumah, mengunci pintu dan memakan makanan yang sudah disiapkan. Aku buru-buru melangkah keluar, mengikuti jalan arah biasa ibu pergi ke pasar. Menelusuri setiap gang, menanyai pelanggan-pelanggan ibu yang suka memesan kuenya.
Nihil.
Kulanjutkan pencarianku ke pasar. Ibu tidak ada di kios. Kata ibu-ibu yang punya kios di sebelahnya, ibu sudah pulang dari tadi. Tidak tahu ke mana. Setengah menangis putus asa, kuputari pasar itu. Mungkin ibu sedang membeli sesuatu.
Nihil.
Kali ini aku benar-benar panik. Aku berlari menuju arah jalan pulang, kembali menanyai setiap orang di jalanan apakah ada yang melihat ibu-ibu membawa tampah kue. Mereka menjawab sama: tidak. Aku mendengar sedikit nada kasihan terselip dalam nada bicara mereka. Tentu saja, kondisiku sekarang sudah mulai menangis. Tapi jawaban dari orang-orang itu tak cukup membantu.
Kususuri lagi jalan berbatu-batu itu. Terisak kecil. Menatap jalanan dengan nelangsa.
Tiba-tiba sebuah sinar jingga menerpa wajahku.
Aku menoleh kaget. Memandang langit.
Langit sempurna keemasan. Antara warna jingga, kemerahan, dan kuning berpadu indah, ditemani awan-awan putih yang melenggok lembut di angkasa. Aku tertegun melihatnya. Larik cahaya itu menyapa wajahku, dan seketika airmataku mengering perlahan. Sesuatu yang hangat menyentuh hatiku, jauh di lubuk hati. Sesuatu yang nyaman.
Ini momen kesukaan ibu.
Apakah ibu —entah di mana ibu sekarang— juga ikut menyaksikan momen ini?
Perlahan semangatku bangkit kembali. Aku harus menemukan ibu, apa pun yang terjadi. Kembali kutanyai setiap orang yang melintas. Selang beberapa menit, aku menemukan jawaban: seseorang melihat beliau berjalan ke lokasi pasar malam.
Aku berlari begitu mendengar jawaban itu —tentunya setelah berterima kasih. Berlari, tidak berhenti barang sejenak. Berlari menuju lokasi yang disebutkan orang tadi. Di pikiranku hanya satu: ibu.
Langit menggelap. Angin malam mulai datang. Beberapa musolla mulai melantunkan azan magrib dengan syahdu. Area kerlap-kerlip riuh pasar malam mulai terlihat olehku. Aku tidak memelankan langkah, walaupun ulu hatiku mulai terasa sakit.
Begitu sampai, kucari sosok itu. Kuterobos segerombol anak-anak yang menjerit-jerit senang menunjuk komidi putar. Aku berlari melewati sekelompok remaja yang sedang bercanda tertawa. Aku menyelip di antara dagangan para penjual. Mataku jeli menyapu seluruh orang yang ada di situ.
“Kue, kue! Kue, kue!”
Aku menoleh cepat. Kudapati seorang ibu-ibu paruh baya sedang duduk di emperan trotoar, menjajakan kue di atas tampah lebar. Suaranya makin lama makin parau. Kulihat kue di atas tampahnya. Tampah itu masih terisi setengah. Wajah wanita itu lelah, tapi dia tak henti-hentinya berteriak pada pengunjung yang lalu lalang.
Lututku lemas mendekati. Gentar melihatnya berjuang. Dadaku bergemuruh, rasanya seperti dipanah berkali-kali. Bulir kristal dengan cepat membuat pandanganku kabur. Dengan sisa energi, kuteriakkan namanya, membuatnya menoleh dan mendekatiku.
Namaku Rieska Alvani, dan aku menemukan ibuku.
***
Panas. Dahinya panas. Berkeringat. Kucelupkan lagi handuk kecil ke baskom air dingin, kuperas dengan terguncang-guncang karena isakanku masih belum berhenti, lalu kutaruh dengan lembut di atas dahinya.
“Rieska.”
Aku mendongak. "Ya, Bu.”
“Kamu ingat saat kamu masih kecil?” ibu tersenyum kecil. “Ibu harus selalu menyanyikanmu lagu pengantar tidur, barulah kamu akan tertidur. Kamu masih ingatkah lagunya?” tanya beliau, menatapku lembut.
Aku terdiam. Aku lupa.
Rinai-rinai hujan tersingkap
Gerimis minggir mengucap permisi,” ibu mulai bersenandung.
Dan simpul itu bekerja. Tersambung dengan sesuatu, sesuatu dari masa lalu. Sesuatu dari masa kecilku. Aku mengingatnya. Setiap baitnya. Setiap momen ketika aku merengek meminta dinyanyikan lagu itu. Setiap momen ketika kepala kecilku ikut mengangguk mengikuti irama lagunya. Lagu sederhana, lagu yang pendek, tapi sekaligus lagu yang berarti.
Awan-awan hitam bergerak
Berarak meninggalkan kampung,” aku mengikuti pelan.
Ibu tersenyum, mengangguk.
Dalam keheningan aku menatap
Sinar jingga kemerahan lembut,” aku mulai terisak lagi. Aku sungguh merindukannya.
“Ingatkah Rieska, saat kamu masih kecil, kita menyanyikan lagu itu bersama saat petang. Saat matahari akan terbenam. Saat langit sempurna berwarna jingga kemerahan, momen keindahan yang memberi ketentraman. Kamu duduk di pangkuan Ibu, ikut bersenandung mendengar iramanya. Ibu ingin sekali bisa seperti itu lagi. Sayang, Ibu lihat sepertinya sekarang kamu sudah tidak tertarik lagi,” ujar ibu.
Aku menggeleng. “Tidak Ibu. Maafkan Rieska. Rieska mau seperti itu lagi. Rieska... Rieska sayang Ibu.” Aku sempurna menangis.
“Maaf, Ibu tidak selalu bisa mencukupi segala kebutuhan Rieska dan adik Laira. Tapi Ibu berjanji akan terus berusaha, demi kalian.”
“Tidak, bukan Ibu, tapi kita. Aku akan selalu membantu Ibu, mulai sekarang,” aku mempererat pelukanku pada ibu.
“Menyongsong roda hidup baru
Yang bahagia, bahagia, selamanya.” []

Cerpen “Langit Jingga Ibu” di atas adalah Juara Ketiga Lomba Menulis Cerita untuk siswa setingkat SMP yang diselenggarakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun 2015. Ayesha Kamila Rafifah, lahir di Jakarta, 3 November 2002. Siswa SMP Negeri 49, Jalan Raya  Bogor, KM 20, Kramat Jati, Jakarta Timur. 









Piala di Atas Dangau
Cerpen Muhammad Isrul

Jika mengenang kembali masa laluku, aku termasuk anak yang diberikan hidayah oleh-Nya. Aku berada dalam suka cita dan terkadang meneteskan airmata sendiri saat merasa terharu. Ya, dulu waktu masih duduk di bangku SD, terkadang aku ingin menjerit melengkingkan suaraku sebagi tanda kekesalanku. Bagaimana tidak. Aku termasuk anak yang dilahirkan dari keluarga yang cukup memadai untuk ukuran biaya sekolah, namun itu tak dapat aku nikmati. Dan yang lebih menyakitkan hatiku, beberapa temanku hidup dengan kondisi ekonomi pas-pasan, tapi orangtua mereka sangat mengerti tentang pentingnya pendidikan.
“Terlanjur kita yang merasakan betapa sulitnya hidup ini karena dahulu kita tidak bersekolah, jangan sampai anak-anak kita kelak mengalami hal yang sama.” Demikian pernyataan yang sering kudengar dalam pertemuan guru dan orangtua siswa di sekolah. Kalimat itu selalu dilontarkan Pak Rahmat, kepala sekolahku di SD, untuk mengubah pola pikir masyarakat di desaku. Tapi itulah kenyataannya, sebagian orangtua siswa hanya mendengar saja, sesudah itu pulang ke rumah dan sibuk dengan urusan sawah, kebun, sapi, dan berbagai mata pencaharian lainnya. Tidak ada respon. Salah seorang di antara mereka adalah ayahku. Baginya, ungkapan itu bagai angin yang berlalu saja.
Jujur kuakui, tak pantas aku menceritakan semua ini. Tapi aku ceritakan juga sebagai luapan rasa gembiraku karena aku mampu keluar dari kemelut saat itu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas 8 di salah satu sekolah favorit di kotaku. Sebuah impian yang selalu terhalang karena adat dan tradisi desaku. Boleh jadi, apa yang kualami ini juga dialami oleh anak-anak seusiaku di tempat lain.
O iya. Namaku Isrul. Aku lahir dan tinggal di pelosok desa. Berhubung desaku terpencil dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, maka tradisi dan adat-istiadatnya masih sangat kental. Tapi yang namanya pendidikan, hampir semua orang tua di desakau tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, termasuk ayah dan ibuku.
“Dulu tidak ada sekolah di desa ini.” Itulah jawaban ayahku ketika aku menanyakan perihal sekolah.
Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban itu. Dalam benakku, terlintas pikiran bahwa di kota kecamatan pasti ada sekolah. Tapi kalau pernyataan itu kuajukan, maka sudah pasti mata ayahku melotot sambil berkata, “Matempo to anana’, ye. Sudah, jangan banyak bicara, tahu apa kau tempo dulu.” Ungkapan ini memang sudah tersimpan di otak hampir seluruh orangtua di desaku. Jika mendengar kata matempo, anak-anak terpaksa bungkam. Sudah menjadi tradisi di desaku, bahwa semua perkataan orangtua sifatnya mutlak. Menentang orangtua adalah tabu. Anak yang menentang orangtua bahkan dinggap kurang ajar. Jika ayahku sudah menetapkan keputusannya, maka ibu menurut pula. Merah kata ayahku, merah pula kata ibuku. Lagi-lagi dalam tradisi desaku, isteri wajib menuruti kata dan kemauan suami. Isteri adalah makmun yang wajib mengamini imam selesai melantunkan Surah Al-Fatihah.
Meski sekarang kondisi desaku sudah mulai berkembang, namun pola pikir ayahku masih belum berubah. Urusan pendidikan belum diutamakan. Inilah yang mengganjal pikiranku saat aku menyampaikan niatku untuk melanjutkan pendidikan di kota.
“Sudahlah, Nak. Turuti saja kata ayahmu,” demikian kata ibu.
“Bu, saya mau sekolah di kota,” kataku mengiba.
“Untuk apa kau sekolah di kota? Di desa sebelah kan sudah ada SMP.”
Sudah kuduga bahwa ibuku pasti berpihak kepada ayahku. Apalagi ibuku tahu bahwa di desa sebelah sudah ada SMP Satap. Sekolah ini menggunakan gedung SD sebagai tempat belajar.
“SMP di sini tidak sama dengan SMP di kota, Bu.”
“Ah kau itu, ada-ada saja jawabanmu, di kota namanya SMP, di sini juga namanya SMP. Apanya yang tidak sama?”
“Namanya memang sama, Bu. Tapi cara belajarnya tidak sama.”
“Memangnya di kota belajar apa?”
“Anu, Bu.”
“Ah, sudah. Itu sapi belum minum, lebih baik kau ambil ember lalu ambil air dari sumur. Sebentar lagi ayahmu pulang. Ia akan marah jika tahu sapi itu belum kau berikan air,” itulah jawaban pamungkas ibu.
Meskipun aku kesal dengan sikap ibu, itu kulakukan juga. Pernah suatu ketika aku meluapkan kekesalan dengan menyumpahi sapi-sapi itu. Waktu itu, sempat kulirik raut muka ibuku tampak kecewa dengan sikapku.
Namun ibu masih memberikan jawaban halus. “Kalau sapi itu kaupelihara dengan baik lalu dijual, uangnya untuk kau juga,” kata ibu.
Kalau jawaban seperti itu sudah keluar dari mulut ibu, maka sudah pasti tidak ada toleransi lagi. Kecuali kalau aku mau dikatakan anak matempo.
Itulah sepenggal kisahku yang nyaris menggagalkan aku melanjutkan sekolah di kota.
***
Peringatan Hardiknas merupakan awal penyebab terbukanya pintu hati ayahku untuk merespon keinginanku bersekolah di kota. Saat itu dilaksanakan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah pemilihan siswa berprestasi tingkat kecamatan. Semua sekolah diisyaratkan mengutus perwakilan untuk berlomba. Dari sekolahku, aku yang diutus. Seleksi siswa berprestasi dimulai dari tes pengetahuan, meliputi matematika, bahasa Indonesia, IPA, dan IPS. Tes selanjutnya adalah hasta karya.
Menjelang lomba, Bu Sahida, guru kelasku, memberiku bimbingan. Bahkan aku diminta untuk datang ke sekolah sore hari. Ya, seperti yang kukisahkan pada awal cerita ini, tidak semudah itu untuk minta izin ke sekolah mengikuti kegiatan sore. Setiap hari, sepulang sekolah aku menghabiskan waktu di sawah atau di kebun membantu orangtuaku. Tak pelak lagi, jika waktu panen kadang orangtuaku tak peduli dengan kegiatan sekolah.
“Rul, nanti ikut ke sawah, ya!”
“Tapi, Yah, sore ini aku mau ke sekolah.”
“Ke sekolah, untuk apa? Ini kan sudah sore.”
“Mau belajar sore, Yah.”
“Apa tidak cukup waktu belajarmu pagi sampai siang?”
“Kata guruku aku akan diutus mengikuti lomba siswa berprestasi. Aku mendapat tambahan belajar di sore hari.”
“Ah, ada-ada saja alasan kau. Sudah, jangan banyak bicara, ikut ke sawah.”
“Tapi, Yah….”
“E…. gurumu itu orang desa ini juga. Pasti tahu bahwa saat ini musim maddongi. Besok kau menghadap, sampaikan bahwa kau membantu Ayah di sawah. Nah, pasti gurumu mengerti mengapa kamu tidak ke sekolah.”
Aku terpana. Jawaban ayah benar-benar membuatku hampir menangis histeris. Bagaimana tidak. Lomba semakin dekat, sementara masih banyak materi yang belum aku paham. Terbayang aku akan hancur dan tidak bisa bersaing dengan siswa sekolah lain. Ingin rasanya aku berteriak agar ayahku tahu bagaimana kacaunya pikiranku. Namun aku sadar bahwa ini adalah perbuatan yang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan semakin membuat ayahku geram. Otakku terus berpikir untuk mencari solusi terbaik. Sambil berjalan mengikuti ayah dari belakang, aku mulai menyusun strategi. ”Bagaimana kalau aku ke rumah iyye’-ku, menyampaikan masalahku ini. Ya, hanya dia yang mampu menunddukkan ayah.”
Esok harinya, sepulang sekolah aku tidak langsung pulang ke rumah. Kuayunkan sepedaku menuju rumah iyye’-ku.
“Rul, kenapa kamu lesu,” tanyanya. 
“Anu, Iyye’, mungkin nanti aku tidak dapat rangking.”
Mendengar kata rangking, sudah pasti iyye’-ku akan merespon perkataanku. Sebenarnya, yang mau kuajukan adalah masalah lomba. Tapi apa boleh buat, terpaksa itu yang kukatakan karena iyye’-ku tidak paham siswa berprestasi. Iyye’-ku cuma tahu istilah rangking. Dalam pikirannya rangking itu berarti pintar.
“Wah, kenapa kamu tidak bisa rangking?”
“Karena akhir-akhir ini ayah sering ajak Isrul ke sawah. Jadi, banyak pelajaran yang Isrul tidak ketahui.”
“Ya sudah, tidak usah sedih. Nanti kusampaikan pada ayahmu. Kau ke dalam, makan dulu lalu pulang.”
Benar juga. Malam harinya iyye’-ku datang menemui ayah. Aku pura-pura tidur dan mulai memasang telinga untuk menyimak pembicaraan mereka. Kudengar suara ayahku membalas salam sambil menuju pintu.
Poleki mabbere jama’ Etta,” kudengar suara bapak menyapa iyye’-ku.
“Iya, sekalian ketemu Pak Dusun.”
“Ada apa dengan Pak Dusun.”
“Itu, persiapan tudang sipulung.” 
Agaknya pembicaraan iyye’ dengan ayah belum mengarah ke pokok persoalanku. Aku mulai kesal campur gelisah. ”Ah, mengapa iyye’ belum juga membicarakan perihal sekolahku,” keluhku dalam hati. Kegelisahanku bertambah saat ibuku keluar dari bilik dapur dan bergabung dalam pembicaraan iyye’ dan bapak. Malah pembicaraan mereka bertiga justru semakin jauh dari apa yang kutunggu. Aku mencoba berpikir bagaimana memancing perhatian mereka agar pembicaaan mereka berpindah ke masalahku. Kurebahkan pelan-pelan kepalaku, lalu pura-pura menggeliat sambil mengeluarkan suara geliat: “Akhhh….”
“Isrul, Tetta.... Dari tadi tertidur, mungkin capek dari sawah,” kata ayah.
Siasatku berhasil. Ingin rasanya aku melompat kegirangan. Pelan-pelan aku bangkit. Tiba-tiba aku mendengar iyye’ mulai menyampaikan kepada ayah perihal masalahku. Kumaksimalkan pendengaranku. Ya, Allah, berikanlah rahmat-Mu pada hamba-Mu ini,” doaku dalam hati. Dari bilik kamar aku mendengar iyye’ mulai menyampaikan apa yang kukeluhkan.
“Jangan terlalu memaksa anakmu bekerja. Dia kan masih anak-anak, lagi pula dia bersekolah.” Demikian nasihat iyye’ kepada ayah.
“Bukan memaksa, Tetta. Saya hanya mengajarkan untuk pembiasaan tidak malas, seperti halnya Tetta yang selalu mengajarkan saya dulu,” kata ayah.
“Iya, tindakanmu itu tidak salah, tapi masa saat kau masih anak-anak sudah tidak sama dengan masa anak-anak sekarang.”
Lanjutan percakapan antara iyye’ dan ayahku sudah tidak kuingat lagi. Yang kuingat bahwa iyye’-ku gagal meyakinkan ayahku. Aku memenangis tanpa suara, takut ketahuan. Bantalku basah oleh linangan airmataku.  
Esok harinya, aku menghadap Bu Sahida, menyampaikan bahwa aku tidak bisa ke sekolah sore hari. Alhamdullilah, Bu Sahida cukup bijaksana. Dia memberiku bahan lomba untuk dipelajari di rumah.
Semua bahan tersebut aku bawa ke sawah. Aku membantu ayah di sawah. Tugasku adalah duduk di dangau mengusir sekawanan burung pipit yang hinggap di batang padi. Ya, itulah salah satu bagian pekerjaan petani di desaku. Saat padi mulai menguning, petani sudah disibukkan dengan kegiatan ini. Benar memang, sebab jika tidak maka petani akan terancam gagal panen karena buah padinya dimakan burung pipit.
Beruntung, karena tugasku kali ini adalah maddongi saja, sementara ayahku keliling dari petak satu ke petak lain menyiangi padi. Di atas dangau, sambil menjalankan tugas dari ayahku, kubuka bahan lomba yang diberikan guruku. Kadang-kadang pikiranku terpusat pada bacaaanku, sehingga perhatianku luput akan burung-burung yang lahap memakan butir padi. Aku baru sadar saat ayahku berteriak dari pematang sawah. Cepat-cepat tanganku meraih tali yang terpasang di tiang dangau.
“Heyaaa….” Aku berteriak lengking sambil menarik tali kelentang. Terdengar bunyi dari kelentang satu ke kelentang lain bertalu-talu. Kawanan burung pipit itu pun beterbangan. Hal itu kulakukan pada empat tali yang masing-masing mengarah ke empat arah. Setiap tali kutarik berkali-kali membuat lenganku terasa pegal dan suaraku hampir parau. Tapi semua itu kulakukan demi mewujudkan mimpi-mimpiku. Ya, menjadi juara.
Merasa bahan yang diberika Bu Sahida cukup aku kuasai, perhatianku kualihkan pada hasta karya. Aku berpikir keras hasta karya apa yang akan kupresentasikan pada lomba nanti. Meminta uang untuk membeli bahan tidak mungkin. Selain kendala ayahku, jarak ke kota untuk membelinya pun sangat jauh. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada tellang yang tumbuh subur di pesisir saluran air menuju ke sawah. Kutebang beberapa batang dan kukeringkan dekat dangau.
“Untuk apa itu, Rul,” tanya ayah saat melintas dekat batang tellang yang kukeringkan.
Otakku secepatnya berspekulasi, ”Mau buat sangkar burung, Yah.”
“Di rumah kan sudah ada kau punya,” kata ayah.
“Mau buat model baru, Yah. “Yang di rumah, modelnya sudah banyak yang sama yang dimiliki teman-temanku.”
“Ya sudah, buat saja. Tapi ingat jangan sampai kau lupa tarik kelentang itu,” jawab ayah.
Kali ini aku mendapat jawaban yang menyengkan dari ayah. Ya, orang-orang tua di desaku memang sudah mengerti akan kegemaran anak-anak membuat sangkar burung jika musim maddongi tiba. Anak-anak di desaku ramai-ramai membuat sangkar burung yang megah. Aneka model sangkar burung miniatur rumah tergantung di teras rumah. Anak-anak yang belum mampu membuat sangkar, akan merengek kepada orang tuanya agar dibuatkan. Kami biasanya membuat dua sangkar. Satu sangkar jebakan dan satu lagi sangkar piaraan. Sangkar jebakan kami pasang di atas pohon yang tumbuh di sekitar pematang sawah. Jika burung pipit sudah masuk dan terjebak, lalu kami pindahkan ke sangkar piaraan.
Sengaja kuceritakan sedikit kebiasan musiman tersebut di desaku, untuk menjelaskan bahwa kalau aku menyatakan pada ayahku mau membuat hasta karya untuk lomba, maka sudah pasti jawabannya “jama-jamang de’ gaga wassele’na” (“pekerjaan tak berhasil guna”). Tapi jika aku menyampaikan sangkar burung, ia akan menurut.
Tibalah saatnya aku berlomba, aku diantar oleh Pak Rahmat, kepala sekolahku, dan Bu Sahida, guru kelasku. Bu Sahida menenteng hasta karyaku yang sebelumnya sudah dikemas dengan menggunakan bekas kardus indomie. Dalam perjalanan tak henti-hentinya kedua guruku itu memberikan motivasi dan semangat. Bahkan berjanji, jika aku juara, mereka akan membantuku meyakinkan ayahku agar aku bisa lanjut sekolah di kota.
Seperti dugaanku, bahwa aku pasti akan menemukan persaingan yang lebih ketat dibanding dengan di sekolahku. Aku bertemu dengan siswa jempolan dari berbagai sekolah di wilayah kecamatan. Aku bertemu dengan siswa perempuan yang penampilannya sudah menunjukkan kepintarannya. Namanya Anisah. Kacamatanya tebal; badannya agak kurus, sepertinya lebih senang belajar daripada makan dan mungkin kurang tidur saking seringnya belajar. Aku juga bertemu dengan Munawar, seorang laki-laki dengan penampilan cuek. Dari seragam sekolah yang dia pakai, aku menebak bahwa ia dari salah satu sekolah yang berdomisili di ibukota kecamatan. Sejak datang ia hanya duduk. Matanya melolot ke buku yang dipegangnya. Keseriusannya belajar seperti kobaran api yang takkan padam oleh siraman air.
Selain nama yang kusebutkan di atas, aku juga mengenal Anwar. Orangnya mudah dikenal karena humoris dan suka bertingkah lucu. Karena humorisnya itu, sekejap ia mejadi populer. Pertemuanku dengannya bermula saat salah seorang guru menanyakan cita-cita Anwar.
“Apa cita-citamu?” tanya guru tersebut.
“Mau jadi astronot dan menginjakkan kaki di matahari,” jawab Anwar.
“Wah tidak mungkin, kau akan terbakar,” kata sang guru.
“Saya akan naik ke matahari pada malam hari,” jawab Anwar.
Jawaban Anwar sontak membuat orang di sekitarnya tertawa tekekeh. Saat kutanyakan tentang sikap Anwar pada Bu Sahida, ia mengatakan bahwa kadang-kadang memang ada anak yang pintar karena kepribadian humorisnya.
Aku tidak sempat lagi mengenal lebih jauh satu persatu teman pesaingku, karena tiba-tiba lonceng berbunyi tanda dimulainya tes tertulis. Aku pamit pada Pak Rahmat dan Bu Sahida. Sebelum masuk ruangan, Bu Sahida menepuk-nepuk pundakku sementara Pak Rahmat mengelus-elus kepalaku. Sebuah perlakuan yang membuatku tegar bersemangat. Terasa sekali, seakan ada dorongan untuk berjanji bahwa aku tidak akan mengecewakan mereka. Kuraih soal yang ada di depanku, lalu kutundukkan kepalaku sambil berdoa dalam hati.  
Waktu 150 menit berlalu tepat saat bel tanda ujian tulis berakhir. Panitia lalu menghampiri kami, mengumpulkan lembar soal dan jawaban satu per satu. Kuserahkan lembar soal dan jawabanku dengan tangan gemetar. Panitia yang menerima pun tersenyum melihat tingkahku itu. Pandanganku kuarahkan ke pintu ruangan, terlihat guru-guru pendamping berdesakan, seakan tak sabar ingin menjemput siswa masing-masing.
Aku keluar dari ruangan. Seperti guru lain, Bu Sahida pun menjemputku dengan pertanyaan, “Bagaimana pekerjaanmu, Rul.”
Aku menghela nafas panjang. ”Cukup sulit, tapi kujawab semua, Bu.”
“Ya, mudah-mudahan banyak jawabanmu benar.”
Aku tak mampu menatap lama raut wajah guruku itu. Terlihat olehku raut muka yang cemas-cemas berharap. Batinku mampu membaca betapa malu dan kecewanya guruku itu jika aku berada di peringkat terakhir.
Sejam kemudian, hasil ujian diumumkan. Dari balik kaca jendela, panitia hanya menempelkan peringkat 1 sampai 10. Betapa girangnya Bu Sahida saat mengetahui bahwa namaku berada di urutan ke-2 dari 10 peserta terbaik. Bu Sahida memeluk erat tubuhku. Tak ketinggalan tangan Pak Rahmat kembali mengusap kepalaku. Ketika kutanyakan siapa yang urutan pertama, Pak Rahmat menyebut nama si pemilik kacamata tebal.
Kami dikumpulkan kembali untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya. Kali ini setiap peserta tampil mempresentasikan hasta karyanya. Bu Sahida, menyodorkan hasta karyaku.  
“Kamu punya kesempatan juara satu, Rul.” Lagi-lagi Bu Sahida memberiku semangat. ”Jangan gugup saat berbicara, tetap tenang,” lanjutnya.
“Iya, Bu,” jawabku.
Saat yang mendebarkan tiba. Setelah diundi, urutan pertama yang tampil adalah Anisah, Si Kacamata Tebal, di susul Si Humoris, Anwar. Semetara, aku urutan ketiga. Anisah menampilkan bunga yang terbuat dari pipet minuman, sementara Anwar menampilkan miniatur rumah bersusun yang terbuat dari spons gabus. Melihat karya kedua temanku itu, aku merasa sedikit minder. Betapa tidak, karya kedua temanku itu begitu mempesona. Namun, terbayang wajah kedua guruku yang sangat berharap pada diriku. Itu membuat aku berusaha untuk membangun kembali nyaliku yang hampir runtuh. Saat giliranku tiba, kukeluarkan karyaku dari kardus. Sesuai dengan arahan panitia, kujelaskan sekilas tentang karyaku itu. Termasuk ketika panitia bertanya tentang alat dan bahan, cara membuat, dan fungsinya. Semua itu aku lalui dengan lancar, karena memang pada dasarnya aku sudah terbiasa mencari bahan dan membuat jebakan burung pipit yang berminiatur rumah.
Satu per satu peserta tampil di depan mempresentasikan hasil karyanya.
Selesai waktu presentasi, kami pun kembali menunggu hasil keputusan panitia. Inilah penantian yang paling mendebarkan. Panitia akan mengakumulasi nilai ujian tertulis dan nilai hasta karya dan dari akumulasi itu, panitia menetapkan juara satu sampai tiga. Peserta yang berhasil meraih peringkat pertama akan mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Aku duduk di samping Bu Sahida. Tak hentinya-hentinya batinku berdoa, memohon kepada Tuhan semoga dapat juara. Kulirik Bu Sahida, tampak tenang dan tersenyum. Namun hati kecilku menyatakan bahwa di balik senyumnya itu, berkecamuk rasa cemas dan harap.
Seorang yang mengenakan stelan jas dan dasi, keluar dari ruangan disusul beberapa panitia. Dari keterangan Bu Sahida, kutahu bahwa beliau adalah Kepala UPTD Pendidikan di kecamatanku. Betapa girang dan bahagianya kami bertiga. Saat Kepala UPTD menyebut namaku sebagai peringkat pertama. Aku lalu menangis, saat Bu Sahida memelukku sambil meneteskan airmata bahagianya. Lag-lagi usapan lembut Pak Rahmat kurasakan di kepalaku. Sebuah piala dan selembar piagam serta buku-buku bacaan kuterima.
Saat tiba di rumah, aku berlari menemui ibuku dan menceritakan bahwa aku juara satu. Mulanya ia tidak percaya, tapi melihat piala dan piagam yang kupegang, ibuku menangis dan memelukku. ”Ayahmu akan bangga, Rul,” kata ibu saat melepas pelukannya. Aku pamit sama ibu, untuk menemui ayahku yang masih berada di sawah. Aku berlari menelusuri pematang sawah sambil memeluk erat pialaku.
“Ayaaaah… aku juara satu,” teriakku saat tiba di dekat dangau.
Dari atas dangau, ayahku menjulurkan tangannya meminta piala yang masih kudekap. Aku lalu bercerita panjang tentang bagaimana perjuanganku saat lomba, termasuk menceritakan bahwa aku akan berlomba kembali di tingkat kabupaten. Mata ayahku tak berkedip memandang piala itu. Ia lalu menarik nafas`panjang dan menatapku.  
“Rul, kau betul-betul mau sekolah di kota.”
“Iya, Ayah. Mau sekali,” jawabku spontan.
“Kalau kau dapat juara di kabupaten, aku izinkan.”
Betapa gembiranya aku mendengar penyataan ayahku. Aku lalu meluapkan kegembiraanku menarik tali kelentang.
“Heyaaaaaa… aku akan melanjutkan sekolah….”
“Heyaaaaaa… sekolah di kota….”
“Heyaaaaaa…. Heyaaaaaa….”
Kulihat ayahku tersenyum geli melihat tingkahku. Sarung yang melilit di pundaknya dilepaskannya, lalu salah satu ujungya digantungkan di dangau sehingga meneyerupai ayunan bayi. Diambilnya pialaku itu, diusap dan disimpan dalam ayunan sarung tersebut. ”Nanti jatuh dan pecah,” katanya.
“Heyaaaaa… ayahku memang hebat….”
“Heyaaaaa… terima kasih, Ayah….”
Tak henti-hentinya aku berteriak dan menarik tali kelentang, sampai ayah menegurku.
“Rul, kalau kau terus begitu, dangau ini bisa roboh,” kata ayah.
Inilah berkah luar biasa dan menjadi kejutan bagiku sepulang lomba di kecamatan. Aku lalu menjadi selebriti di desaku. Sejak itulah aku semakin giat belajar, memperbaiki prestasiku. Aku belajar sungguh-sungguh untuk mencapai mimpiku. Pulang sekolah, kuisi tasku dengan buku, lalu menuju sawah. Di atas dangau aku mengasah pengetahuanku dengan membaca.
Di kabupaten, meski aku kalah bersaing untuk meraih peringkat pertama, aku masih berhasil meraih peringkat ketiga. Kembali piala kabupaten kularikan ke dangau. Ayahku tambah yakin akan kemampuanku. Sedikit demi sedikit aku memperbaiki prestasiku. Alhamdulillah berkat usaha itu aku mendapat peringkat satu dikelasku sampai aku tamat di SD dengan predikat terbaik.
“Hebat kamu ya, Rul. Kamu anak yang tidak mudah menyerah,” kata Pak Rahmat.
“Terimakasih. Itu semua berkat dukungan Bapak,” jawabku.
***
Menjadi siswa di sekolah favorit adalah kebangaan tersendiri. Kebanggaan itu muncul dari rasa kepuasan atas hasil proses panjang yang di dalamnya melibatkan kerja keras, kesabaran, kedisiplinan, dan mental yang pantang menyerah. Resmi menjadi siswa di sekolah favorit, aku semakin giat belajar. Besyukur pada Allah Swt., aku mampu meraih peringkat 1 di kelasku. Saat kenaikan tingkat ke kelas 8, diumumkan peringkat 10 besar. Namaku menempati urutan pertama. Di kelas 8, aku mulai bergabung di organisasi kesiswaan yang dibina oleh sekolahku. Aku memilih organisasi Sanggar Seni Sastra dan Karya Ilmiah Remaja. Sekali dalam seminggu, aku dijemput ayah, pulang ke desaku untuk melepas kerinduan ibuku. Kata ayah, jika hari Sabtu, ibuku selalu mengingatkan ayah untuk menjemputku. []
Catatan
Anana’                      : anak-anak
Iyye’                         : sapaan kepada kakek
Mabbere jama            : solat berjamaah
Maddongi                  : mengusir burung (saat buah padi mulai menguning)
Matempo                  : pembicaraan/perlakuan tanpa kesepakatan orangtua (lancang)
Pole’ki                      : dari…
Etta / Tetta              : sapaan untuk orangtua (Ayah)
Cerpen “Piala di Atas Dangau” di atas adalah Juara 1 Lomba Menulis Cerita untuk siswa setingkat SMP yang diselenggarakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun 2015.

Muhammad Isrul, lahir di Tingaraposi, Kabupaten Wajo, 28 Januari 2002. Siswa SMP Negeri 4 Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.


Betapa Hebatnya Dia
(cerpen anak pemenang 1 LMCA 2013)
Oleh: Intan Nurhaliza

Sungguh aku tidak membenci Jihan, adikku satu-satunya. Dari hatiku yang terdalam, sesungguhnya aku sangat mengasihinya. Namun, entah mengapa hingga saat ini aku belum bisa menerima Jihan yang terlahir sebagai adik kandungku.
Jihan terlahir sedikit berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Dengan kata lain, ia mempunyai ‘dunianya sendiri’. Nada bicaranya sedikit lambat. Cara kerja otaknya dalam berpikir pun berbeda dengan teman-teman seusianya. Dilihat dari fisiknya, posisi kepala Jihan sedikit miring ke kanan, tidak tegak. Terkadang air liur sesekali jatuh dari mulutnya. Hal inilah yang membuatku belum bisa menerima kehadirannya sejak ia lahir dari rahim Mama.
“Jihan anak yang hebat. Mama bangga padanya,” begitu kata Mama, ketika aku membandingkan Jihan dengan adik Nisa, Riri. Jujur, sampai saat ini aku masih suka membanding-bandingkan Jihan dengan anak normal lainnya, termasuk Riri. Bagaimana tidak, Riri, teman akrab Jihan itu, jauh lebih aktif daripada Jihan. Riri juga mempunyai kegemaran yang sama denganku. Ia senang melukis. Lukisannya bagus untuk anak seusianya.
“Bangga? Apa yang bisa Mama banggakan dari Jihan, Ma? Dia itu berbeda dengan Riri. Dia berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Dia itu enggak…” Mama memotong pembicaraanku. Ditadahkannya jari telunjuknya di bibirku. “Ssst.... Jangan keras-keras bicaranya, tidak enak kalau Jihan mendengarnya.”
Sampai saat ini, aku belum bisa melupakan kata-kataku itu. Setelah kupikir-pikir, aku bukanlah kakak yang baik untuk Jihan. Bagaimana tidak, ucapan dari mulutku itu telah menyakiti hati Jihan. Baru kutahu akhir-akhir ini, ternyata Jihan mendengar pembicaraan kami saat itu. Setelah kejadian itu, Jihan lebih sering mengharapkan perhatianku. Menurutku, Jihan ingin menunjukkan kepadaku betapa hebatnya dia. Namun, tetap saja, ia adalah anak yang berbeda.
Tak jarang aku mencacinya di belakang Mama. Hampir setiap hari aku selalu marah pada Jihan. Betapa menjengkelkannya dia. Pernah aku mengurungnya di kamar ketika Mama pergi. Hari itu, perilaku Jihan sangat menyebalkan. Ia mengganggu minggu pagiku yang cerah dengan semua kelakuannya yang aneh. Jihan menawarkanku segelas sirup buatannya. Aku mengangguk saja. Lagipula, aku tengah asyik dengan acara film hari ini. Kubiarkan Jihan membuat sirup sendiri di dapur. Tak lama, Jihan datang dengan dua gelas sirup yang ia janjikan. Namun, bukan segelas sirup segar yang kudapat, melainkan pecahan gelas kaca. Ya, Jihan membawa nampan gelas sirup itu tidak hati-hati. Alhasil, aku harus membersihkan pecahan gelas itu dan mengepel rumah hingga bersih. Menyebalkan.
Suatu hari, aku baru saja pulang dari sekolah. Dengan tubuhku yang lemas, aku mengetuk pintu rumah. Seperti biasa, Jihan membukakan pintu, dan menyambutku dengan teramat manis. “Eh, kakak.. sudah pulang..” bicaranya lambat sekali. Aku membalasnya dengan senyum simpulku. Kemudian, berlalu dari hadapan Jihan.
“Kakak, tunggu…” Lagi-lagi Jihan memanggilku. Aku menarik napas sejenak. Aku berbalik. Menatap Jihan yang tersenyum manis. “Ada apa lagi?”
Jihan tidak menjawab, tetapi tersenyum-senyum kepadaku. Sembari memainkan jari-jarinya, ia memandangku dengan malu-malu. “Kak, Jihan mau diajarin melukis, dong.
Uh! Hari ini saja aku sudah sangat sibuk di sekolah. Tugas sekolahku minggu lalu menumpuk. Aku belum sempat mengerjakannya, karena minggu lalu aku harus menemani Jihan bermain di rumah Nenek. Ini permintaan Mama, kalau saja bukan Mama yang menyuruhku menemani Jihan di rumah Nenek, aku tidak akan mau menemaninya. Lagipula, aku harus berlatih piano, karena dua minggu lagi sekolah akan mengadakan pentas tahunan. Belum lagi, les melukis yang menambah padat jadwalku.
“Tidak bisa, Jihan. Kakak harus menyelasaikan tugas sekolah. Dan, minggu depan, Kakak sudah mulai ujian. Kakak harus belajar dari sekarang,” aku berusaha sabar menanggapi adikku ini. Kulihat raut wajah Jihan yang murung. Dia menunduk mendengar jawabanku. Tak sampai hati aku melihatnya, namun bagaimana lagi, aku benar-benar harus mengerjakan tugasku. “Minta diajarin Mama saja ya,” Aku mengelus rambut Jihan. Ia tidak menjawab apa-apa dan meninggalkanku begitu saja.
Jadwalku yang padat, memang membuat waktuku dengan Jihan berkurang. Kata Mama, Jihan kesepian. Ia senang jika aku menemaninya walau hanya sebentar. Namun, tetap saja aku memiliki aktivitas sendiri. Aku memang sering mengabaikannya. Aku bukanlah kakak yang baik untuk Jihan. “Setelah Kakak ujian, Kakak akan menyediakan waktu untukmu, Jihan,” aku bergumam sambil mengambil buku tugasku di meja belajar.
Aku masih larut dalam tumpukan buku pelajaranku. Samar-samar kulihat Jihan datang menghampiriku. Tampaknya ia membawa hasil lukisannya. “Kakak, lihat nih, Jihan juga bisa melukis, lho,” Jihan bersemangat sekali. Ia berlari-lari menghampiriku. Dan, yang terjadi setelah itu…. Brak! Lukisan Jihan jatuh tepat di buku yang sedang kupelajari. Lukisan itu benar-benar baru diselesaikannya. Ah, benar-benar menjengkelkan!
“Jihan! Sudah Kakak bilang, jangan ganggu Kakak! Lihat! Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak mengerti? Kakak bilang, Kakak mau belajar, jangan diganggu!” Aku marah, karena tulisan di bukuku hampir tidak terbaca. Tumpahan cat warna memenuhi buku itu. “Dasar anak enggak… ah….”
Sejak saat itu, Jihan tidak pernah menggangguku lagi. Ia banyak menghabiskan waktunya di kamar. Entah apa yang dia lakukan di kamar. “Cinta, coba kamu ajak adikmu keluar dari kamar. Sejak kamu berangkat sekolah, ia mengabiskan waktunya di kamar. Mama ajak keluar enggak mau, coba kamu rayu,” Mama menasihati sambil duduk di ranjangku. Aku menanggapinya acuh tak acuh. Ah, Jihan, Jihan dan Jihan…, batinku kesal. Terkadang aku merasa Mama terlalu banyak menaruh perhatian pada Jihan, sehingga waktuku bersama Mama terbuang untuk Jihan.
“Sudahlah, Ma. Paling Jihan sedang tertidur, atau dia asyik dengan hal-hal konyolnya. Dia kan anak yang berbeda, enggak…,” Mama menatapku tajam, memotong pembicaraanku. Sepertinya ada yang salah dari perkataanku tadi. “Berhenti, Cinta! Berhenti mengolok-olok adikmu. Berhenti mengungkit-ungkit kekurangannya. Jihan selalu berniat menolongmu, tapi dengan keterbatasannya, kamu harus mengerti. Ingatlah, berapa kali kamu menyakiti hati lembutnya,” Mama meninggalkan aku sendiri di kamar. Ah, tetap saja perkataan Mama tidak membuat rasa jengkelku pada Jihan, terhapuskan.
Tok.. Tok.. Tok.. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kudengar langkah kakinya menapaki lantai. Segera kubuka pintu kamarku. Tidak enak jika aku tidak membukanya, apalagi kalau yang mengetuk itu Papa atau pun Mama. Ceklek! Bukan sosok manusia yang kutemui, melainkan sebuah surat di depan pintu kamar. Aku meraih surat itu. Kubuka dengan perlahan.
Untuk Kak Cinta tersayang
Kak, Maafkan Jihan ya. Jihan salah karena sudah merusak buku kakak. Jihan tau, kakak marah. Di mata kakak, Jihan selalu salah. Tapi, memang Jihan anak yang membawa sial. Anak yang enggak normal, seperti kata kakak. Kak, sekali lagi maafin Jihan ya. Sebagai permintaan maaf, Jihan mau kakak datang ke taman. Jihan mau tunjukin sesuatu. Jihan tunggu kakak sampai datang ke taman.
Salam manis,
Adik Kak Cinta yang menyebalkan
Entah mengapa hatiku tidak luluh membacanya. Sepucuk surat itu tidak sukses membuatku ingin menemuinya. “Ah, malas sekali aku datang ke taman. Lagipula, kenapa harus di taman sih? Aku sangat mengantuk dan terlalu lelah untuk menemui Jihan,”
Sudah kuduga. Aku tertidur pulas sekali. Dan, sepucuk surat dari Jihan masih di genggamanku. Samar-samar kudengar Mama mengetuk pintu kamarku sembari memanggil namaku. “Masuk saja, Ma. Tidak dikunci kok,” aku menanggapinya.
“Cinta, tolong cari adikmu. Heran, ke taman saja sampai petang. Terlebih di luar hujan deras sekali,” ucap Mama sembari masuk ke kamarku. Dug! Aku jadi teringat surat yang diberikan Jihan. Dia menungguku di taman. Segera kuambil payung milikku, lalu berlari menuju taman dengan tergesa-gesa.
“Jihan! Jihan! Ini Kakak, Jihan,” Aku berteriak memanggil nama Jihan. Mencarinya di sekitar taman perumahan yang luas. “Jihan, kamu dimana?” suaraku semakin menggema mencari Jihan. Tetes air hujan ikut mengiringi perjalananku mencari Jihan, adikku yang manis.
Dari kejauhan kulihat sosok anak yang terbaring di tengah taman. Perasaanku mulai bercampur aduk. Aku merasa sangat bersalah kepada adikku sendiri. Betapa teganya aku mengabaikannya. Mengabaikan semua kebaikannya kepadaku. Oh, Jihan....
“Jihan?” Mataku menatap seorang anak yang terbaring lemah dengan gulungan kertas di genggamannya. Aku tersentak. Sosok itu benar-benar Jihan adikku. Bibirnya pucat sekali. Dia tergeletak lemas di taman dengan hujan yang membasahi tubuh mungilnya. “Jihan, bangun..., ini Kakak…, maafkan Kakak Jihan, maafkan Kakak…,” aku menggerak-gerakkan tubuh Jihan.
Aku belum bisa membayangkan betapa kejamnya aku terhadap adikku sendiri. Aku membuat adikku harus terbaring lemas di rumah sakit dengan jarum infus di tangannya. 
Sekali lagi kulirik Jihan yang belum juga terjaga setelah kejadian kemarin. Aku sangat menyesalinya. Andai saja, aku menuruti permintaanya untuk datang ke taman. Semua tidak akan berakhir seperti ini. Baru kutahu, Jihan memintaku datang ke taman karena ia ingin menunjukkan hasil lukisannya. Dia melukis dua orang anak perempuan yang bergandengan tangan. Anak perempuan yang pertama lebih tinggi dari yang kedua. Di bawah lukisan anak perempuan yang pertama terdapat tulisan ‘Kak Cinta yang cantik’. Dan, gambar anak perempuan yang kedua bertuliskan ‘Jihan yang menyebalkan’. Lukisannya dipulas dengan warna yang indah. Terdapat tulisan ‘Jihan sayang kak Cinta’ di atas lukisan itu. Hampir menangis aku melihat lukisan Jihan. Terlebih saat aku mengetahui, Jihan harus menahan laparnya demi menyelesaikan lukisannya di kamar. Jihan juga merangkai bunga-bunga membentuk tulisan ‘Maafkan Jihan kak Cinta’. Sayangnya, aku menyia-nyiakan usaha adikku itu. Aku telah membuatnya kecewa. Aku bukanlah kakak yang baik untuk Jihan. Rangkaian tulisan dari bunga-bunga itu sedikit hancur terkena hujan kemarin sore. Namun, aku tetap mengabadikannya di kamera handphone-ku. Dan, ketika Jihan tersadar nanti akan kutunjukkan ‘Betapa Hebatnya Dia’. Mama benar, Jihan anak yang hebat. “Jihan, cepatlah tersadar…. Nanti Kak Cinta ajarin Jihan melukis… Kak Cinta sayang Jihan.” [*]



Seuntai Puisi untuk Adikku
(Pemenang 1 LMCA 2014)
Oleh: Giza Arifkha Putri

Rinai membasuh bumi dengan riangnya. Bagai anak manja yang telah melewati masa hukuman setelah beberapa lama terkurung, membuncah deras titik-titik air dari langit menyongsong kebebasan. Namun sayang, hatiku tak seriang rinai yang menciptakan embun tebal di jendela kamarku. Hatiku tak sebebas rinai yang melompat-lompat di atas paving teras rumahku. Ada rasa kesal yang mengentak-hentak dinding kalbu. Pada dia, adik lelakiku, yang menyita habis seluruh perhatian Mama, Papa, dan segenap keluarga.
Faza, sebuah nama yang sebenarnya aku turut andil dalam penciptaannya meskipun hanya dengan ucapan “ya”, tanda setuju, ketika Papa melontarkan kata itu saat calon adikku masih tertidur nyaman di dalam perut Mama. Kata Papa waktu itu, hasil USG menunjukkan kalau calon adikku berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu, Papa sudah mempersiapkan nama untuk bayi laki-laki bagi adikku nantinya, hingga tercetuslah nama “Faza”.
Ketika genap kandungan Mama menginjak usia 6 bulan, adikku keluar tanpa diminta, seolah-olah tak sabar melihat dunia yang begitu indah, atau mungkin tak sabar bertemu denganku, saudara perempuannya. Akibat dari kelahiran yang belum waktunya itu –orang dewasa sering menyebutnya prematur-- adikku terlahir tak sempurna. Cedera otak atau istilah yang sering disebut oleh dokter ketika berbicara dengan Mama adalah Cerebral Palsy, merupakan penyakit yang diderita adik lelakiku, Faza. Karena penyakit itu, adikku tidak mampu beraktivitas secara normal seperti anak-anak normal pada umumnya. Faza tidak bisa bicara, tidak bisa melihat, tidak bisa duduk, apalagi berjalan. Mungkin hanya pendengaran dan detak jantungnya saja yang masih normal bekerja. Semua harus dibantu orang-orang di sekelilingnya. Dan itu, sungguh merepotkan bagiku. Penyakit itu pula yang membuat kasih sayang Mama, Papa, dan segenap keluarga terenggut dariku. Tentu saja, ketaksempurnaan tubuh Faza membuat semua orang begitu memperhatikannya.
Dulu, sebelum dia lahir, perhatian Mama sepenuhnya untukku. Tapi kini, waktu Mama habis untuk memperhatikan anak kesayangan Mama ini dengan segala kelemahan organ tubuhnya. Papa juga sama, selalu menghabiskan waktu untuk adikku begitu pulang kerja dan tak pernah lagi menawariku jalan-jalan sore, menghabiskan waktu di alun-alun kotaku sambil makan jagung bakar manis dan sate kerang kesukaanku. Adik lelaki yang dulu sangat kukasihi ketika masih tidur nyenyak di perut Mama, kini menjadi orang yang paling kubenci sejak dia lahir ke dunia.
Siang itu sepulang sekolah, Wali Kelasku memintaku menghadap karena ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan. Aku pun segera menuju ke ruang guru untuk menemui Bu Jatun, Wali Kelasku.
“Sasa, tiga hari lagi kamu mewakili sekolah dalam Lomba Macapat Islami tingkat Provinsi di Semarang. Apakah kamu sudah memberitahu kedua orangtuamu untuk mendampingimu dalam lomba tersebut?” tanya Bu Jatun, yang langsung kujawab dengan satu kata, “sudah”. Padahal jawaban itu kukarang dengan spontan, karena sebenarnya aku tak pernah menyampaikan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. Bagaimana mungkin aku menyampaikan hal itu pada Mama dan Papa, jika waktu mereka habis untuk Faza. Jadwal terapi dan berobat Faza seolah harga mati yang tidak mungkin terusik oleh acara sepenting apa pun, termasuk lomba yang akan kuikuti ini. Percuma, pikirku, toh mereka pasti akan menjawab tidak bisa hadir. Jadi, kuputuskan untuk diam hingga mendekati hari pelaksanaan lomba.
Suatu hari sepulang sekolah, Mama tiba-tiba bertanya, “Sa, tadi Mama bertemu Bu Jatun. Katanya, besok kamu akan mengikuti Lomba Macapat Islami tingkat Provinsi di Semarang. Bu Jatun menanyai Mama tentang siapa dari Mama dan Papa yang akan mendampingi kamu di acara itu. Terus terang Mama gelagapan ketika ditanya Bu Jatun. Mama akhirnya mengatakan kalau Papa yang akan mendampingimu. Kamu kok nggak pernah mengatakan kepada Mama tentang hal ini, Sa?”
Seolah meluapkan kekesalan, aku pun menjawab dengan ketus, “Apakah jika Sasa bicara, Mama dan Papa mau hadir dalam acara itu? Lagi pula, apa Mama dan Papa mau mendengar jika Sasa bicara?”
“Lho, Sasa kok bicara gitu sih. Ya pasti dong, Sayang, Mama dan Papa mau mendengarkan setiap kali Sasa ingin menyampaikan sesuatu,” jawab Mama dengan sabar dalam memberi reaksi pada keketusanku.
“Bohong. Selama ini yang ada di pikiran Mama, Papa, dan semua orang hanyalah Faza dan Faza. Tidak ada yang peduli lagi dengan Sasa. Setiap Sasa menginginkan sesuatu, Mama dan Papa selalu menolak dengan alasan Faza. Semua orang tidak ada lagi yang sayang samaSasa,” teriakku sambil menangis.
Menghadapiku, Mama dengan kesabarannya mendekatiku. “Sasa anakku, jika Mama dan Papa bisa memilih, maka kami akan memilih anak seperti Sasa. Anak yang pintar, cantik, dan berprestasi. Tapi rupanya Allah menganugerahkan Mama dan Papa, juga Sasa tentunya, anak dan adik yang seperti Faza. Membandingkan antara kondisi Faza dan Sasa, tentunya Sasa sebagai kakak harus punya pengertian yang sangat besar jika Mama dan Papa sedikit lebih memperhatikan Faza. Ketika Faza tidak bisa melihat dan Sasa bisa melihat, maka tentunya Mama dan Papa akan memapah Faza dengan tanpa mengabaikan Sasa. Ketika Faza tidak bisa berjalan dan Sasa bisa berjalan dengan normal, maka Mama dan Papa akan menggendong Faza dengan tanpa mengabaikan Sasa. Dalam hal ini, Mama dan Papa minta maaf jika mungkin selama ini terkesan lebih memerhatikan adikmu. Tapi sungguh, harapan kami, kasih sayang kami tidak berat sebelah antara satu anak dengan anak yang lainnya. Sasa bisa mengerti maksud Mama?”
Panjang lebar Mama menasihatiku, tapi rupanya rasa kesalku terhadap Faza lebih bertahta dari rasa sayangku terhadap Mama. Maafkan aku, Ma. Aku belum sanggup menerimanya.
Di antara rasa kesal yang masih menggelora, keesokan harinya aku pun mengikuti Lomba Macapat Islami dengan didampingi Papa. Ternyata, rasa kesal mempengaruhi hasil suaraku sehingga aku harus berpuas diri meraih juara harapan ke-3. Papa membesarkan hatiku, demikian juga dengan Mama, melalui pesawat telepon di seberang sana.
“Selamat ya, Sayang,” sambut Mama begitu aku sampai di rumah. Aku tidak begitu bersemangat menanggapi pelukan Mama yang tangan kanannya repot memangku Faza --dengan mulut yang belepotan air liur dan makanan seperti biasanya.
Huh, menyebalkan!
Aku pun meletakkan begitu saja piagam penghargaanku, lalu buru-buru berlari ke kamar mengadukan kekesalan hati pada bantal dan guling. Mungkin karena kelelahan, aku pun tertidur untuk beberapa saat. Namun, ocehan dan teriakan Faza mengusik mimpiku dan memaksaku bangun untuk menghampirinya dengan bersungut. “Dasar anak nggak normal! Bisanya cuma mengganggu ketenangan orang,” gerutuku dengan menurunkan volume suara tentunya, karena jika Mama mendengar aku menyebut Faza sebagai “anak nggak normal”, pasti aku akan kena marah nantinya.
“Ya Allah, Faza. Apa yang kamu lakukan pada piagam Kakak?” Aku berteriak ketika melihat piagam penghargaan yang kuperjuangkan tadi siang, dilumat habis olehnya. Memang, semua benda yang tersentuh tangan Faza, selalu habis ia makan pada akhirnya. Dan memang, sebenarnya kesalahanku juga telah meletakkan piagam itu di atas kasur Faza sehingga sampailah benda berharga itu di mulutnya. Kukeluarkan dengan paksa remahan piagamku dari mulut Faza. Kupunguti piagam yang sudah tak berupa itu dengan isakan tangis dan rasa kesal pada adikku. Kucubit pipinya yang gempal dan putih hingga memerah dan membuatnya menangis keras. Kutinggalkan ia dengan tangisnya, sampai Mama yang baru mandi keluar terbirit-birit menghampiri dan kemudian menenangkan Faza.
Jam menunjukkan pukul 04.30. Kudengar suara gaduh dari luar kamar. Aku pun keluar menghampiri asal suara yang mengusik tidur nyenyakku. Kulihat Mama dengan muka cemas menggendong Faza yang sudah memakai jaket dan selimut tebal seperti hendak bepergian. Sementara Papa membawa tas yang biasanya berisi pakaian Faza.
“Papa dan Mama mau membawa Faza ke mana?,” tanyaku mengusik kecemasan mereka.
“Oh, kamu sudah bangun, Sayang. Ini, adikmu semalam panas tinggi dan kejang. Mama khawatir karena sampai sekarang panasnya belum turun. Jadi mau Mama bawa Faza ke rumah sakit. Kamu shalat subuh dulu sana, doakan Adik supaya tidak ada apa-apa ya!” kata Mama menggoreskan luka di hatiku.
Kudekati Faza, kupegang dahinya, dan kurasakan panas menjalar di sekujur tubuhku. Tiba-tiba saja ada rasa penyesalan yang melanda atas perlakuanku kepadanya tadi sore. Kutengok pipi putih yang merona merah sisa kekejamanku. Ya Allah, aku takut jika sakitnya Faza karena ulahku. Ya Allah, sembuhkan adikku dari sakit yang dideritanya saat ini. Aku meminta dengan ketulusan hati dalam shalat subuhku.
Pagi, di sekolah, aku tak berkonsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Pikiranku melayang-layang pada kondisi Faza. Ingin sekali mempercepat waktu agar bel pulang segera berbunyi sehingga aku dapat segera ke rumah sakit bertemu Mama, Papa, dan Faza. Kata Mama sebelum ke rumah sakit subuh tadi, Kakek akan menjemputku sepulang sekolah dan langsung membawaku ke rumah sakit jika aku berkeinginan menjenguk Faza.
“Sasa, jangan melamun! Kamu paham tugas yang Ibu minta tadi?” ucapan Bu Jatun membuyarkan lamunanku.
“Eh, maaf Bu. Mohon diulangi, saya kurang paham,” kataku berbohong.
“Baiklah, Ibu akan ulangi lagi perintah Ibu tadi. Sasa dan juga yang lainnya, dengarkan baik-baik tugas yang akan kalian kerjakan hari ini! Buatlah sebuah puisi tentang ungkapan kasih sayang kita kepada seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan kita! Seseorang itu bisa berarti orang tua, saudara, kerabat, ataupun sahabat. Sudah paham anak-anak?” jelas Bu Jatun yang diikuti ucapan “paham Buuu” secara koor oleh aku dan teman-teman.
Tugas mengarang puisi yang diberikan Bu Jatun mengangankanku akan sosok adikku tersayang, meskipun selama ini menurutku belum benar-benar kusayang karena kecemburuanku yang buta. Sebuah puisi untuk adikku, Faza, akan kubuat untuk memenuhi tugas Bu Jatun sekaligus sebagai tanda kasih dan maafku padanya.
“Seuntai Puisi untuk Adikku” adalah judul puisiku, mengalir dalam goresan tinta dan air mata penyesalanku.
Andai sanggup kuuntai air mata
kan kurajut menjadi selimut hangat
dengan balutan kasih yang kan menutupi tubuh mungilmu
Andai kumampu
memberi warna pada harimu yang tak bermimpi
hingga luka satu-satu pergi
dan aku bebas memelukmu
dengan hujan tangis yang memburu
Adikku, bersabarlah karena Tuhan punya rencana
di balik ketaksempurnaan tubuhmu
yakinlah aku akan menerimamu tanpa ragu
Akhirnya, bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Bergegas aku berlari keluar kelas setelah sebelumnya bersalaman dan mengucapkan salam pada guru yang mengajar di jam pelajaran terakhir. Kubawa kertas hasil karangan puisiku yang tadi sempat kubacakan di depan kelas. Ada nilai 90 bertinta merah tertuliskan dari pena Bu Jatun sebagai penghargaan atas hasil karyaku itu. Aku berlari kencang menghampiri Kakek yang telah menungguku di depan gerbang sekolah. Kami pun segera meluncur ke rumah sakit tempat Faza dirawat.
“Mamaaa…,” aku berteriak sambil membuka paksa pintu sebuah ruangan rumah sakit, yang ber-AC, berbau obat, dan serba putih.
“Eh, Kakak datang,” sambut Papa sambil meraihku dan mengangkat tubuhku untuk kemudian mendudukkanku di sisi sebuah ranjang tempat Faza
berbaring. Kulihat Faza dengan muka lemah masih sempat tersenyum sebagaimana yang selalu ia lakukan setiap kali mendengar suaraku, tersenyum tanpa makna. Tangan kanannya tampak terbebani oleh selang panjang yang berjarum --kata Mama disebut infus. Pasti sakit tentunya.
“Mama, bagaimana keadaan Faza?” tanyaku pada Mama yang ada
di sebelah Faza.
“Alhamdulillah, berkat doa Kakak, Adik Faza sudah baikan sekarang. Ini tinggal pemulihan saja,” kata Mama memberi penjelasan.
Dengan penuh kasih sayang dan rasa penyesalan, kubelai kepala Faza yang hangat. “Za, maafin Kakak ya. Kakak jahat sama kamu selama ini. Habisnya semua orang jadi tidak peduli sama Kakak gara-gara Kamu. Maafin juga kemarin Kakak marah-marah dan nyubit pipi kamu sampai merah. Salah sendiri kamu nakal ngrusakin piagam Kakak.”
“Oooaa,” seolah mengerti apa yang kuucapkan, Faza menimpali ucapanku dengan ocehannya. Mama, Papa, dan Kakek pun tertawa mendengarnya.
“O iya, Kakak buatin kamu sebuah puisi lho. Dapat nilai 90 nih. Kakak bacain ya,” kataku bersemangat sembari turun dari atas ranjang.

Semua pun menyambutku dengan tepuk tangan. Dengan gaya bak seorang penyair, aku pun mempersiapkan ekspresi terbaik untuk membacakan hasil karya terbaikku untuk adikku tersayang. “Sebuah puisi karya Sasa Putri Delvaira untuk Adik tercinta, Faza Putra Delvaira,” ucapku mengawali pembacaan puisiku dengan hati riang.










DIA YANG KEMBALI TERSENYUM
Cerpen Pemenang Lomba ROHTO

Wajah dibalik cermin itu kembali datang mengusik. Menyeringai lebar namun tak seperti serigala. Merintih pelan namun sama sekali tak mirip anak kucing yang mencari puting susu induknya. Melainkan lebih mirip anjing letih. Lidahnya menjulur, nafasnya terengah. Dan kedua bola matanya sayu saat memandangku.
Tenanglah, penderitaanmu tak akan lama lagi. Bisikku, seraya mengelusnya. Elusan yang terhalang oleh lima milimeter kaca cermin. Bibir yang semula menyeringai itu kini mengerucut, panjang ke depan, seperti menanggung segunung kesal yang terkunci rapat di ujung bibir. 
Kulepaskan jemariku, lalu melangkah mundur. Wajah itu ikut mundur. Bedanya, jika aku tersenyum, ia justru merengut. Tatapannya bertambah sayu. Dan gerak nafasnya melambat.

Aku masih tersenyum. Sampai kakiku menyentuh permukaan lembut seprei ranjang. Lalu merebahkan tubuh. Wajah itu berusaha untuk rebah juga. Namun entah kenapa wajah itu tak kunjung terpejam. Gelisah. Saat ku terjaga kulihat ia masih terjaga. Menanggung perihnya seorang diri. 
*******
“Kenapa tidak sarapan, hanya minum?” Ibu menatapku heran. Aku meneguk jus jeruk dengan terburu. Membiarkan setangkup roti bakar berlapis selai kacang, telur setengah matang bertabur serbuk merica, juga segelas susu beraroma vanilla, diam di tempatnya. 

“Maaf, bu, aku sudah telat.”
“Kalau begitu dibungkus saja. Nanti jam istirahat jangan lupa dimakan.” Dan tanpa menunggu persetujuanku, ibu telah memasukkan roti bakar ke dalam kotak bekalku. 

Aku ingin protes. Namun detak jam di dinding menjadi pengingatku. Wajah itu muncul lagi, saat langkahku melintasi cermin berbingkai jati yang tergantung di ruang tamu. Tapi kali ini, ia mencoba untuk tersenyum. 
Huh. Aku mendengus. Cepat aku menuju halte. Sedikit pusing saat melompat ke dalam bis. Wajah itu masih mencoba untuk tersenyum, saat sekilas kutatap ia yang memantul di kaca spion bis. Aku menggeram. 
*******
“Di, ke kantin yuk,” “Maaf, aku di kelas saja. Aku bawa bekal,” tolakku pada ajakan Hanna saat bel istirahat berbunyi. “Tidak apa-apa, bawa saja bekalmu ke kantin. Mana? Biar kuambilkan.” Tukas Hanna seraya membuka tasku.
Aku tak bisa mengelak. Saat kotak bekal itu sudah berada di tangan Hanna lalu dengan tangannya yang lain menggandeng lenganku menuju kantin.
“Mau pesan apa, Di?” tanya Hanna saat kami tiba di kantin. 
“Air putih saja.” 
“Kenapa cuma air putih?” 
“Kan aku sudah bawa bekal?” Aku balik bertanya.
“Maksudku, ya kenapa cuma air putih? Kenapa bukan es teh? Atau syrup?” 
“Bukankah air putih paling baik untuk kesehatan? Tidak baik membiasakan diri minum yang manis-manis. Lama-lama bisa kena kencing manis.”
*******
Ia hanya menyantap separuh roti bakarnya saat jam istirahat tadi. Ketika Hanna memergokinya yang tengah menyimpan sisa roti bakar dalam kotak bekalnya ia mengatakan kalau roti bakar itu sudah dingin dan liat. Ketika Hanna menawarinya untuk memesan menu lain di kantin ia menjawab sudah kenyang. Ia memang bodoh.
*******
Wajah itu kian nelangsa. Seperti anak kucing yang berhari-hari tak menemukan sebutir remah pun untuk dimakan, setelah berhari-hari juga ia terpisah dari puting susu induknya. Ia bahkan tak mampu lagi menjulurkan lidahnya. Sepasang mata yang menatap sayu kini sesekali terpejam. Mungkin ia mengantuk. 
Aku tersenyum lebar. Aku tak peduli pada wajah itu. Melainkan pada tubuh yang berada dibawahnya. Tubuh itu tak lagi sama. Namun satu yang kusadari bahwa akhir-akhir ini wajah diatas tubuh itu telah kian pilu.
Maukah kau untuk sejenak bersabar? Aku tak mengelus wajah itu, sebaliknya mengelus sesuatu dibalik piyamaku. Sesuatu yang kini terasa hampa. Tipis. Rata seperti papan namun permukaannya lembut seperti kain.
Aku memejam mata. Merasakan sensasi aneh saat jemariku terus mengelus. Sensasi yang hanya berisi tiga kata, kepuasan, kepuasan, dan kepuasan. Setelah dulu – entah kapan, malas untuk mengingatnya lagi – permukaan yang kuelus itu kerap memancing air mataku. Berulang kali mengenakan pakaian untuk kemudian melepaskannya kembali saat apapun jenis pakaian yang kupakai tetap gagal menutupi permukaannya yang mirip tonjolan bukit kecil. Hampir menyerupai tonjolan pada perut ibu yang sedang mengandung. Dan aku akan langsung menangis jika ada yang mengatakan bahwa permukaan itu memang mirip perut ibu yang sedang mengandung.
Ahh ! Aku tersentak. Gerakan mengelus sontak berubah menjadi cengkeraman yang benar-benar rapat dan kuat. Saat dari balik permukaan itu tiba-tiba saja muncul gerakan gemuruh. Seperti gunung yang tak tahan untuk segera memuntahkan laharnya. 

Tidak. Ini tak akan berlangsung lama. Aku perlahan bergerak mundur. Mundur. Tanpa menatap lagi wajah diatas tubuh itu. Entah masih pilu. Atau mungkin telah terisak.


*******

“Hari ini kamu harus sarapan, Diandra.” “Tapi….” 
“Tidak ada tapi-tapi. Tidak ada alasan telat sekolah lagi. Kamu sudah terlalu kurus. Lihat, baju dan rokmu sudah longgar semua.” 
“Tapi kalau telat aku dimarahi, bu….” 
“Biar ibu mengantarmu hari ini. Kalau dimarahi, ibu yang akan bilang pada gurumu kenapa
kamu terlambat…” 
“Kenapa? Karena aku harus sarapan dulu? Astaga, bu! Aku bukan anak kecil lagi! Nanti aku malah ditertawakan!” 
“Siapa yang akan menertawakanmu? Teman-temanmu? Coba saja kalau mereka berani menertawakanmu.”
Kali ini aku tak bisa melawan kehendak ibu. Ibu bahkan mengancam tak memberiku uang saku kalau aku menolak untuk sarapan.
Sejak hari itu ibu mulai ketat mengawasi sarapan pagiku. Karena hanya pada saat sarapan ibu bisa menemaniku. Selebihnya, ibu harus bekerja sampai larut malam demi menghidupi kami berdua sepeninggal ayahku.
Kini setiap pagi ibu meluangkan lebih banyak waktu untuk menyiapkan sarapan ekstra. Nasi goreng komplit dengan irisan telur, sosis, dan parutan wortel. Atau bubur ayam bertabur daging suwir, seledri, bawang goreng lengkap dengan kaldu ayam kental. 

Pada awalnya aku merengut, namun setiap kali pula aku tak kuasa menolak untuk menyisakan sarapan buatan ibu yang rasanya memang sangat lezat. Namun akhir-akhir ini, entah kenapa aku malas tersenyum. Aku juga mulai malas melihat cermin, karena wajah itu belakangan ini tampak mencoba untuk kembali tersenyum. Aku tak suka melihatnya tersenyum. Antara ia dan aku, memang sudah lama tak pernah sepakat. 

Pagi ini aku kembali menemui ibu di meja makan. Ibu yang menyambutku dengan senyum lebar dan sepaket sarapan komplit : bubur kacang hijau, susu vanilla, telur setengah matang, dan sebutir tablet multivitamin. Bunyi dengusan pelan dari arah pintu samping membuatku sejenak menoleh. Ah. Si Manis kucing tetangga rupanya. Ia mendengus-dengus. Kepalanya tertunduk-tunduk. Dan dari celah mulutnya, terluah cairan pekat. 
Aneh. Aku tak merasa jijik. Aku tersenyum. 
*******
Wanita itu tersenyum. Hanna juga tersenyum. Semua yang mengenalnya ikut tersenyum. Gadis itu telah kembali seperti dulu. Gadis yang dulunya mencintai apapun yang bisa memuaskan lambungnya. Sampai kemudian ia bertemu Ronald. Sampai kemudian ia menjadi rajin membeli majalah remaja yang didalamnya terdapat lembaran formulir. 

Awalnya aku juga masih hobi tersenyum. Sampai tiba suatu masa dimana hanya ia saja yang mampu melakukannya. Tak hanya senyumku yang ia renggut. Tapi juga senyum ibunya. Senyum Hanna. Senyum sahabat-sahabatnya. 
Jadi sekarang, tidak aku heran saat melihat mereka kembali tersenyum. Hanya satu-satunya yang tak bisa gadis itu lakukan. Ia belum kembalikan senyumku. 
*******
“Wah, kamu hebat ya sekarang.” “Hebat apanya?” “Dulu makanmu sedikit, sekarang banyak, tapi tubuhmu tetap langsing. Apa sih rahasianya?” Aku hanya tersenyum. Melirik pada Hanna yang juga ikut tersenyum. 
Hari ini aku makan di kantin. Padahal di rumah, sebenarnya aku sudah sarapan. Menghabiskan sarapan yang dihidangkan ibu tanpa sisa, sebaliknya menyisakan senyum lebar di wajah ibu sebelum ia berangkat bekerja.
Saat meninggalkan kantin, mendadak jantungku berdebar-debar. Dalam jarak lima meter didepanku, cowok tampan itu berdiri memandangku, terus memandangku, dan ia masih disana, meski aku telah berlalu dari hadapannya.
*******
Ia berhasil mendapatkannya. Senyum yang paling ia dambakan diantara semua senyum. Bahkan sampai tengah malam pun ia masih tersenyum-senyum. Dalam apapun yang ia lakukan ia tetap tersenyum. Lalu ia tertidur. Seraya mendekap foto Ronald, juga formulir di majalah yang baru saja ia gunting.
*******
Ibu menatap hidangan di meja makan seraya tersenyum puas. Hari ini ulang tahun Diandra. Dan ibu yakin kalau Diandra tidak ingat. Buktinya sampai tadi malam Diandra tidak bilang apa-apa. Mungkin anak gadisnya itu terlalu sibuk. Sebentar lagi dia akan ujian semester. Namun tentu saja ibu tak pernah lupa. Dalam hidupnya ia hanya mengingat tiga hari dan tanggal ulang tahun. Ulang tahun Diandra, ulang tahun suaminya, dan ulang tahunnya sendiri. Karena suaminya telah meninggal, maka ia tak pernah lagi menyiapkan apa-apa pada saat tanggal itu tiba, selain hanya memanjat doa agar segala dosa suaminya diampuni dan kelak mereka akan dipertemukan di syurga.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Diandra. Sejak beberapa hari lalu ibu telah sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Berbelanja di swalayan, memesan kue ulang tahun rasa coklat bertabur irisan strawberry, juga membeli hadiah spesial untuk Diandra. 

Ibu ingin merayakan ulang tahun Diandra yang ke tujuh belas berdua saja dengan anak gadisnya itu. Dan ia pun tak berniat menghalangi andai Diandra ternyata sudah punya rencana sendiri untuk merayakan ulang tahunnya. Apa yang penting baginya adalah bahwa momen istimewa itu dapat ia rayakan bersama Diandra dalam satu-satunya waktu yang mampu ia bagi. Waktu sarapan pagi.
“Diandra! Buka pintunya, nak! Kita sarapan sama-sama!” serunya lantang seraya mengetuk pintu kamar Diandra. Tak ada jawaban. “Ibu tunggu dibawah ya! Cepatlah kau mandi dan berpakaian!” Serunya lagi, lalu bergegas kembali ke ruang makan. Begitu khawatirnya ia bahwa masih ada menu yang terlupa disiapkan ataupun kucing tetangganya yang nakal itu tiba-tiba saja nyelonong masuk lalu naik ke atas meja makan dan mengacaukan segalanya.

Ibu menunggu dengan gelisah. Berkali-kali melirik arloji namun Diandra tak juga muncul. Padahal jam weker dari kamar Diandra telah beberapa kali berdering. Mustahil kalau Diandra tak mendengarnya.
Ibu mulai memanggil-manggil. Jarak antara ruang makan dan kamar Diandra hanya terpaut empat meter. Tidak mungkin Diandra tak mendengar suaranya kecuali kalau gadis itu memang masih pulas tertidur. 
Sampai menit ke sepuluh bergeser dari arloji ibu bangkit dari duduknya. Ia baru saja hendak menuju ke kamar Diandra ketika ekor matanya menangkap sosok si Manis dari arah pintu samping. Kucing itu berhenti tak jauh dari pintu. Dan ia mulai mendengus. Ibu telah hafal kebiasaan kucing yang sama sekali tidak manis itu. Selain nakal dan suka mencuri, kucing itu juga sangat jorok. Jika sudah mendengus-dengus seperti itu maka sebentar lagi ia pasti akan muntah.

Ibu meraih gagang sapu lalu mendekati si Manis. “Pergi! Jangan muntah disini, kucing jorok!” Si Manis memandang wajah ibu. Lidahnya terjulur. “Hey, kau tidak dengar ya? Ayo pergi sebelum ku….” Ibu belum lagi menuntaskan ancamannya. Sepasang matanya telah tertarik ke sepetak tanah tak jauh dari kaki si Manis. Juga parit kecil yang mampet di sebelahnya. Disana, ibu melihat genangan cairan berwarna kuning, butiran-butiran nasi, potongan-potongan telur dadar, daun-daun sawi, gumpalan serupa coklat leleh yang belum membeku sempurna. Jumlahnya banyak….banyak sekali. Sepertinya, benda-benda itu belum lama ada disana.
Ibu ternganga. Terbeliak. Saat menolehkan kepala baru disadarinya bahwa si Manis telah raib. Entah kapan kucing itu beranjak dari situ. Ibu menoleh lagi. Pada genangan kotoran dan parit yang tersumbat. Seketika, teringat ia akan menu sarapan yang ia siapkan kemarin pagi. 

*******

Wajah itu datang lagi. Menatap Diandra yang masih terpejam. Masih memeluk foto Ronald, juga guntingan formulir dari majalah. Hanya kali ini gadis itu benar-benar pulas. Saking pulasnya hingga gelombang dadanya pun tiada. Aliran darah segar yang seharusnya merona, juga tiada. 
Wajah itu tak lagi tampak letih, putus asa dan memohon belas. Ia tersenyum. 

Sumber: Riawani Elyta

Setangkai Bunga untuk Bu Imah

Didin masih kesal dengan gurunya. Gara-gara tidak mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, Bu Imah menyetrap Didin dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Selama di kelas lima, Didin sudah tiga kali diberi hukuman yang sama oleh Bu Imah. Didin malu pada teman-temannya. Tapi, Didin juga tak pernah mau mengubah kebiasaannya yang malas mengerjakan tugas sekolah itu.
“Awas ya, Bu Imah, aku akan balas nanti,” gerutu Didin dengan tangan mengepal.
            “Eh, memangnya kamu mau membalas apa ke Bu Imah?” tanya Agung terpancing dengan gerutuan Didin.
            “Itu rahasia, yang penting Bu Imah harus merasakan kesal yang sama dengan ku!” jawab Didin tak mau mengatakan rencana balas dendamnya.
            “Dosa itu Din. Bu Imah kan guru kita,” balas Agung mencoba menyadarkan Didin.
“Halaaah...mikirin dosa, dia saja enggak mikir kalau aku lelah berdiri sejam di depan kelas!” kata Didin bertambah kesal.
            “Iya, tapi....”
            “Sudah! Kamu enggak usah ikut campur, Gung! Sok baik kamu. Mau dapat nilai tinggi ya? Cari muka!” potong Didin cepat membuat Agung tak berani meneruskan kata-katanya. Agung buru-buru meninggalkan Didin. Dia tak mau mencari masalah dengan Didin.
            “Nah! Itu dia sepeda Bu Imah,” seru Didin sambil melangkah dengan cepat menuju ke tempat parkir sekolah.
            “Makanya, jangan main-main sama Didin,” ujar Didin sambil membuka tutup pentil sepeda Bu Imah. Setelah selesai mengempiskan ban sepeda Bu Imah, Didin kembali ke kelas.
            Tinggal satu mata pelajaran lagi. Didin tak sabar menunggu waktu pulang. Dia ingin melihat wajah Bu Imah yang menahan kesal karena ban sepedanya kempis.
            Teeet!
       Akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Didin buru-buru menuju kamar mandi sekolah yang letaknya tak jauh dari parkiran. Bibir Didin menahan senyum kepuasan, saat melewati ruang guru. Didin sempat melihat Bu Imah merapikan buku-bukunya. Mata Didin berbinar-binar melihat Bu Imah yang sebentar lagi akan pulang dengan berjalan kaki.
            “Eh, Din! Kemari kamu!” panggil Bu Imah. Jantung Didin seolah berhenti berdetak.
            Wah, gawat! Apakah Bu Imah tahu kalau aku telah mengempiskan ban sepedanya ya? tanya Didin ketakutan dalam hatinya.
            “Didin!” panggil Bu Imah sekali lagi. Dengan langkah gemetar, Didin mendekati ruang guru.
            “Iya Bu. Maafkan saya,” ujar Didin sambil menundukkan kepalanya.
            “Maaf? Untuk apa? Bukannya tadi Ibu sudah memaafkan kamu gara-gara tidak mengerjakan pe-er?” tanya Bu Imah kebingungan.
            “Anu, anu Bu,” jawab Didin terbata-bata.
            “Sudahlah, Din. Ibu cuma mau mendidik kamu supaya bisa mengubah kebiasaan malasmu itu. Kasihan ibumu yang berjuang sendiri membiayai sekolahmu,” balas Bu Imah. Didin semakin menundukkan kepalanya.
            “Mengerajakan pe-er itu tujuannya untuk melatih kedisplinan juga, Din,” tambah Bu Imah lagi. Didin diam. Dia tak berani menatap wajah Bu Imah. Saat ini, yang ada di kepala Didin hanya bayangan ban sepeda Bu Imah yang kempis gara-gara ulahnya.
            “Nah, tadi kebetulan Ibu dapat rezeki dari Bapak Kepala Sekolah. Karena Ibu dengar ibumu sedang sakit, maka rezeki ini sebaiknya Ibu bagi buat ibu kamu,” ujar Bu Imah. Didin berusaha mengangkat wajahnya.
            “Berikanlah kotak kue ini ke ibu kamu ya. Sampaikan salam Ibu juga. Semoga ibu kamu cepat sembuh dan bisa berjualan lagi di pasar,” kata Bu Imah semakin membuat Didin bingung dan malu.
            “I...iya Bu. Maafkan saya,” balas Didin gugup.
            “Ibu mendengar kabar ini dari Agung, teman sebangkumu. Kalau tidak, Ibu enggak pernah tahu jika ibumu sedang sakit,” ujar Bu Imah lagi.
            “Maafkan saya Bu,” sekali lagi Didin mengucapkan permintaan maafnya.
            “Ibu sudah memaafkanmu, Din. Sekarang pulanglah. Hati-hati ya, kotak kuenya jangan sampai terjatuh,” kata Bu Imah. Didin hanya mengangguk pelan dan buru-buru menuju tempat parkir.
            Didin menuliskan permohonan maafnya di selembar kertas. Setelah itu, Didin memetik setangkai kembang sepatu yang sedang mekar di sekeliling halaman parkiran. Didin menjepitkan kertas tadi dan ujung tangkai kembang sepatu di boncengan sepeda Bu Imah.
            “Maafkan saya ya Bu Imah,” bisik Didin dengan suara parau. []

Adalah Nenek Mallomo, penasihat kerajaan Sidenreng ratusan tahun yang lalu, yang kejujuran dan kecerdasannya telah dikenal di setiap jengkal tanah kerajaan, tersohor hingga ke kerajaan tetangga. Bertanyalah padanya, dia tak butuh tunduk berpikir untuk mencari jawaban. Ketika dia yang bertanya, bersiaplah bertanya ulang demi menemukan jawabannya. Dia pernah ditantang membuat tali dari debu, dan siapapun tak percaya jika lelaki bertubuh kekar itu akan melakukannya dengan sempurna. Berbekal pelepah daun pisang yang kering, dia mencariknya menjadi tiga bagian, mengepangnya, lalu diangkatnya sarungnya dan kepangan pelepah pisang itu dia pelintir di pahanya hingga membentuk sebuah tali.
“Tapi, La Pagala, tali itu terbuat dari pelepah pisang, bukan dari debu.” ungkap Raja La Patiroi saat menyaksikan pertunjukan itu.
Nenek Mallomo menunduk takzim di depan Raja La Patiroi, lalu meletakkan tali di tanah, terakhir memantik korek berbahan bakar kapuk. Tali itu kemudian terbakar dan menyisakan abu pembakaran yang berbentuk tali. Melihat itu, Raja La Patiroi tersenyum puas dan menggelengkan pelan kepalanya tanda salut.
“Saya tak salah pilih mengangkatmu sebagai penasihat kerajaan, La Pagala.”
Lagi-lagi Nenek Mallomo menunduk takzim.
La Pagala adalah nama aslinya. Nenek Mallomo hanyalah gelar dari kata Mallomo yang berarti memudahkan. Di tangannya semua akan menjadi mudah. Setiap kalimatnya adalah petuah, gerak-geriknya adalah teladan, gagasannya selalu jadi harapan. Pun kata ‘nenek’ adalah gelar untuk orang yang dituakan sekaligus dihormati karena orang-orang Bugis tak mengenal kata kakek. Mereka biasa menyebut nenek laki-laki dan nenek perempuan.
Kecerdasan dan kejujuran Nenek Mallomo sebagai penasihat Raja La Patiroi membawa Kerajaan Sidenreng sebagai kerajaan dengan hasil bumi yang melimpah tanpa hama, hewan ternak yang berbiak tanpa penyakit, rakyat sejahtera tanpa kekurangan. Seluruh rakyat dan penghuni istana bersatu membangun kerajaan dengan modal kerja keras dan kejujuran. Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata[1]. Kerja keras tanpa putus asa akan mendatangkan rahmat dari Tuhan.
****
Kayu bitti itu tumbuh di sepetak kebun. Batang kokohnya lurus menjulang. Setiap angin berembus, tangkainya pun kokoh tak goyah. Hanya ranting yang melambai, dan daun-daunnya yang ikut menari bersama angin. Beberapa rantingnya menjalar hingga ke atas petak sawah di sebelahnya. Bitti memang kuat. Kualitasnya di atas akasia, di bawah ulin. Buahnya pahit hingga tak ada hewan yang berburu untuk memperebutkannya. Saat buahnya yang ukurannya sedikit lebih besar dibanding telur cecak, telah matang, akan berubah warna menjadi hitam pekat. Buah-buah itu akan ditakdir terempas ke tanah. Jika bukan karena kekuatannya, batang dan tangkainya pun akan ditakdirkan jadi debu setelah menjadi kayu bakar. Saat musim bunga dan lebah mendatanginya, yakinlah bahwa madu yang akan dihasilkannya berasa pahit. Kayu bitti manis karena batangnya yang bisa menjadi tiang rumah panggung, dan tangkainya untuk perabot dan peralatan pertanian.
Dan siapa nyana, kelak kayu itu akan membuat seluruh penduduk negeri merana, bahkan seseorang harus dihukum mati karenanya.
****
Lelaki itu meneguk air dari tempat air minumnya. Seperti halnya petani yang lain, tempat air minumnya terbuat dari buah majah. Untuk membuat tempat air minum seperti itu, pangkal buah majah terlebih dahulu dilubangi sediameter benggol kemudian isi buahnya dikeluarkan. Majah yang telah bersih dan dilubangi, dikeringkan hingga benar-benar tak menyisakan bau dari aroma buahnya. Penutupnya, cukuplah dengan meraut kayu sebesar diameter lubang yang digunakan sebagai mulut tuang. Diameter rautan kayu tersebut haruslah dengan suaian pas, tanpa toleransi, agar air dalam wadah majah tak bisa merembes keluar. Setengah hari membajak sawah dengan bantuan sepasang kerbaunya, membuat tegukan lelaki itu terdengar keras.   Beberapa tetes air minumnya tumpah dan membasahi baju tipisnya yang telah kuyup oleh keringat.
Hari ini dia membajak sawah dengan garu, setelah tiga hari yang lalu dia menggunakan tenggala untuk membalikkan tanahnya. Sepasang kerbau yang dia pakai membajak, berdiri di tengah sawah, masih dengan perlengkapan bajak yang terpasang di pundak. Sepasang kerbau itu setia menunggu tuannya untuk melanjutkan pekerjaan. Hanya ekornya yang liar mengempas ke kanan dan ke kiri untuk mengusir lalat dan kutu yang hinggap di tubuhnya.
Lelaki itu kemudian mengambil batang rotan sebesar ibu jari yang dijadikannya pecut, lalu kembali memandu kerbau bajaknya untuk melanjutkan pekerjaannya. Hingga menjelang siang, tanah bajakannya baru selesai seperempatnya. Dan baru tiga kali keliling setelah istirahat minum tadi, tiba-tiba satu mata garunya patah.
“Sepertinya kalian harus istirahat lebih awal,” ucapnya sambil melepas ajoa[2]. “Kalian makan yang banyak, ya!” lanjutnya sambil mengelus kepala kerbaunya secara bergantian.
Lelaki itu kemudian kembali ke pematang. Bukan untuk beristirahat, tapi untuk membuat mata garu demi mengganti yang telah rusak. Saat matanya liar mencari pohon di pematang sawah untuk dijadikannya mata garu, tiba-tiba dia melihat potongan tangkai bitti sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Kayu itu bersandar di batang bitti yang tumbuh di kebun tetangga.
Lelaki itu menengadah ke atas, tepatnya di ranting-ranting bitti. Tak didapatinya lagi tangkai yang menjulur ke sawahnya. Tangkai yang menjulur ke sawahnya itu telah dipotong oleh pemiliknya dan tangkai itu kini bersandar di batang bitti. Kebetulan saya butuh kayu untuk mengganti mata garuku yang rusak. Batinnya sambil menjulurkan tangan ke balik pagar kebun dan mengambil kayu itu. Tak cukup sejam, mata garu yang baru telah siap dipakai.
Dan siapa nyana, kelak garu dari bitti itu akan membuat seluruh penduduk negeri merana, bahkan seseorang harus dihukum mati karenanya.
****
Daun-daun meranggas. Padi yang sebentar lagi akan mengeluarkan bulir, kini menguning kering. Petak-petak sawah yang dulu subur, kini kerontang dan retak-retak. Sungai kering. Sumur-sumur yang kedalamannya telah ditambah pun, tetap tak menemukan mata air. Di mana-mana tercium bau bangkai dari ternak yang mati kehausan dan kelaparan. Raja La Patiroi gelisah. Ini yang pertama kalinya terjadi di wilayah kerajaannya.
“La Pagala, kamu tahu mengapa saya memanggilmu?”
Nenek Mallomo mengangguk takzim.
“Tentang kemarau panjang ini, Puang[3]? Saya pun sedih. Sangat sedih dengan penderitaan rakyat yang didera kemarau.”
Tatapan mereka beradu dan sebagai penasihat kerajaan, Nenek Mallomo memilih mengalah dan menerbangkan tatapannya ke penjuru saoraja[4] yang lain. Apalagi tatapan Raja La Patiroi sangat menuntut sebuah solusi dan sebagai orang yang bergelar Mallomo, dia harus bisa menemukan solusi yang memudahkan.
Puangku La Patiroi, izinkan saya menemui rakyat. Jika saya tak bisa menemukan solusi, paling tidak saya bisa tahu penyebab kemarau panjang ini.”
Nenek Mallomo mengakhiri kalimatnya dengan menunduk takzim, melangkah mundur hingga tangga saoraja, lalu berbalik menuruni tangga setinggi lima meter. Dia berjalan, terus berjalan, menyusuri jalan besar yang menuju ke arah Kerajaan Soppeng di ujung selatan. Dalam setiap ayunan langkahnya, dia terus mencari dan mencari solusi agar bisa keluar dari kesulitan ini. Tapi adakah yang bisa memberi solusi untuk keluar dari paceklik karena kemarau panjang? Nenek Mallomo meyakini bahwa kemarau ini turun dari langit. Diturunkan oleh Puang Seuwae[5], karenanya hanya Dialah yang bisa mengakhirinya.
Raja La Patiroi pernah memujinya saat dia bisa membuat tali dari debu, bahkan sang raja pernah menepuk bahunya pertanda kagum bercampur gembira ketika kerajaan bisa menjadi pemenang dalam perlombaan lumbung padi, dan itu karena ide cerdas Nenek Mallomo. Saat itu kerajaan tetangga menantang Kerajaan Sidenreng untuk adu jumlah padi. Tanpa berniat menipu ataupun berbuat curang, Nenek Mallomo memerintahkan rakyat untuk mengangkut semua padi yang ada di lumbung, yang ada di loteng-loteng rumah, ataupun yang ada di kolong-kolong rumah. Semua padi dipanggul ke gunung batu Allakkuang. Di sana padi disusun mengikuti bentuk gunung, hingga tampaklah padi itu seperti gunung raksasa. Utusan kerajaan tetangga tak berani datang untuk menghitung jumlah padi karena dalam perjalanan dia sudah melihat gunung padi yang menjulang.
Tapi adakah solusi untuk mengatasi kemarau? Lagi-lagi pertanyaan itu hadir menemani langkahnya. Pertanyaan yang tak berjawab hingga langkahnya tiba di bawah sebatang beringin dan dia memilih istirahat di bawahnya. Beringin itu tumbuh di pinggir jalan, dekat simpang tiga menuju Kampung Buae  yang masih wilayah kerajaan. Tanah di bawah beringin itu kering kerontang. Matahari menyengat kulit ketika dia memilih istirahat di sana. Dalam doa yang khusyu, berharap hanya pada Puang Seuwae, dia mengentakkan kakinya di tanah kering di bawah beringin, tiba-tiba muncul mata air sebesar lengan, lalu sebesar betis, bahkan sebesar batang pohon beringin di atasnya. Air itu membentuk genangan, lalu serupa kubangan, dan terakhir menjadi sumur. Orang-orang yang lewat dan menyaksikan ada air yang muncul di bawah beringin, berlari dan berteriak ke arah Nenek Mallomo.
“Saya menamakan sumur ini, Sumur Citta. Airnya memang tak bisa mengaliri sawah, tapi paling tidak kalian bisa mengambil air minum di sini.”
Rakyat hanya bisa saling tatap. Antara heran dan kagum dengan kehadiran Nenek Mallomo yang bisa membawa mata air.
****
Kemarau belum berakhir, padahal telah berbilang tahun. Rakyat semakin sengsara. Beberapa lumbung padi milik rakyat telah kosong. Tak ada tanaman yang bisa mengeluarkan pucuk daun apalagi bunga dan buah. Hewan ternak pun sudah hampir punah, beberapa yang tersisa hanya menyisakan tulang berbungkus kulit. Satu-satunya sumber mata air adalah sumur Citta. Hanya air mata yang mengalir di mana-mana. Bahkan beberapa rakyat meninggal karena keracunan singkong.
Saat kemarau panjang, tanaman yang bertahan hidup hanyalah singkong beracun. Rakyat tetap nekat mengonsumsinya demi melanjutkan hidup, meski nyawa taruhannya. Singkong beracun yang dapatkan di hutan-hutan mereka olah dengan memarutnya, mencucinya, lalu mengeringkannya hingga menjadi tepung tapioka. Jika mencuci atau mengeringkannya tidak sempurna, racun yang ada pada singkong tersebut akan membahayakan. Sebenarnya, tepung singkong serupa itu, setelah dikukus untuk dikonsumsi, rasanya seperti ampas karena sarinya telah bersih bersama racun. Tapi bagaimana pun rasanya, jika itu bisa mengenyangkan, demi bertahan hidup, rakyat tetap akan mengonsumsinya.
“La Pagala, banyak rakyat yang sudah kehabisan persediaan makanan. Pihak kerajaan harus mencari solusi untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan.”
Puangku La Patiroi, tak ada solusi yang tepat kecuali menemukan penyebab kemarau panjang ini.”
“Tapi siapa yang bisa menghentikan kemarau?” ungkap Raja La Patiroi bernada putus asa.
“Mohon maaf, Puang. Kita bukan ingin menghentikan kemarau, itu mustahil. Kita hanya mencari penyebab kemarau panjang ini. Ibarat penyakit, jika kita telah menemukan obatnya, penyakit itu akan sembuh. Hujan turun, rakyat kembali bisa bertani.”
Saoraja dilalap sepi bermenit-menit. Entah pada detak jantung yang keberapa, Nenek Mallomo kembali bersuara.
“Beberapa tahun lalu, kita kedatangan tamu, Arung Matoa dari Kerajaan Wajo.”
“Saya pun masih mengingat itu, La Pagala. Tapi apa hubungannya dengan kemarau panjang?”
“Saat itu Arung Matoa bertanya padaku tentang suatu hal….”
Nenek Mallomo menghentikan kalimatnya demi melihat ekspresi wajah Raja La Patiroi. Seperti yang ada di pikiran Nenek Mallomo, raja pun teringat dengan Arung Matoa Wajo yang saat itu menanyakan penyebab Kerajaan Sidenreng bisa subur, rakyat sejahtera, ternak berkembang biak tanpa penyakit, bahkan benih bukan bibit unggul pun jika itu ditanam di tanah Sidenreng, pasti akan tumbuh dengan baik.
“Saya masih ingat jawabanmu saat itu, La Pagala. Di negeri kami, kejujuran dan prasangka baik pada orang lain adalah keputusan tertinggi.”
“Benar, Puang! Itu berarti rakyat atau bahkan ada di antara kita penghuni saoraja ini yang tidak jujur.”
“Tidak jujur?”
“Iya, Puang! Dan tidak jujur itu bukan hanya berbohong. Mengambil barang orang lain tanpa minta izin, juga adalah ketidakjujuran.”
“Lalu apa yang harus kita perbuat sekarang?”
“Pengawal kerajaan harus turun ke tengah-tengah rakyat untuk mencari tahu siapa yang telah melakukan ketidakjujuran.”
“Jika pelakunya ditemukan…?” tanya Raja La Patiroi mengakhiri kesangsiannya.
“Pelakunya harus dihukum mati. Dia telah membuat rakyat sengsara selama bertahun-tahun.”
****
Pengawal kerajaan mendatangi seluruh kampung di pelosok kerajaan untuk mengumumkan penyebab kemarau panjang sekaligus mencari orang-orang yang pernah berbuat tidak jujur. Berhari-hari pengumuman itu digaungkan, tak ada seorang pun yang mengaku telah berbuat tidak jujur. Semua penduduk merasa tak pernah berbohong apalagi mencuri ataupun berlaku tak adil pada orang lain. Bukan karena mereka takut dihukum tapi penduduk Kerajaan Sidenreng telah menjadikan sikap jujur sebagai karakter. Apalagi, mereka tahu akibatnya jika ada di antara mereka yang tidak jujur, selain hukuman mati, juga bencana untuk negeri seperti kemarau panjang yang kini mengeringkan semua mata air.
****
Malam-malam kemarau adalah dingin yang menggigilkan. Di siang hari panas menyegat, di malam hari akan berganti menjadi dingin yang menusuk hingga ke sumsum. Seorang lelaki dengan sarung kumal yang menyelimuti tubuhnya, duduk di teras rumah panggungnya yang berdinding anyaman bambu. Cahaya pelita yang biasa menemaninya, telah dipadamkannya dari tadi. Dia tak ingin ada cahaya. Bahkan seandainya dia bisa membunuh semua jenis rayap malam yang sejak tadi bernyanyi, dia telah memusnahkan semuanya agar malam tak hanya identik dengan dingin dan gelap, tapi juga sepi.
Lelaki itu sejak tadi mengingat dan mengingat lagi pengumuman yang tadi siang disampaikan oleh pengawal kerajaan di seluruh pelosok kampung. Dia merasa tak pernah berbuat tidak jujur ataupun mencuri. Dia sangat yakin bahwa hingga detik ini, dia tetap berpantang mencuri ataupun berbohong. Tapi entah pada menit ke berapa lelaki itu merasa gelap semakin pekat, nyanyian rayap malam pun tak terdengar lagi olehnya, bahkan dingin yang hingga ke sumsum pun berganti menjadi gerah berkeringat.
Dia teringat dengan sebuah kejadian beberapa tahun lalu ketika dia membajak sawah dan mata garunya patah. Mata garu itu lalu diperbaikinya dengan menggunakan kayu yang diambilnya dari kebun tetangganya. Dia merasa tak mencuri saat itu, karena tangkai kayu itu sebelumnya menjulur ke sawahnya, meskipun akhirnya sang pemilik menebangnya dan menyandarkannya di pohon. Dia baru sadar, tangkai kayu bitti yang diambilnya itu bersandar di pohon berarti ada orang yang sengaja menyandarkannya dan akan kembali lagi untuk mengambilnya.
“Saya telah mencuri!” ucap lelaki itu pada dirinya sendiri.
“Sayalah yang menjadi penyebab kemarau panjang ini tak kunjung berhenti.” lanjutnya lagi.
Tubuhnya menggigil di antara keringat dingin yang sepertinya keluar dari setiap pori arinya. Dia diserang sesal. Tertekan oleh rasa bersalah. Bertahun-tahun rakyat tak menikmati panen karena ulahnya. Hewan ternak banyak yang mati karena kelakuannya. Wajarlah jika balasan setimpal untuk sikap yang tidak jujur adalah hukuman mati. Tapi dia tak gentar dengan kata hukuman mati. Lelaki itu akan ikhlas dengan hukuman apapun karena perbuatannya telah menyengsarakan rakyat.
Besoknya ketika pengawal kerajaan datang lagi untuk mencari orang yang pernah berlaku tidak jujur, dia tak berpikir dua kali untuk mengakui semua perbuatannya.
“Saya telah mencuri. Mengambil sebatang kayu yang disandarkan di pohon. Sayalah yang membawa kemarau panjang itu datang dan tak kunjung berhenti.”
Kedua pengawal utusan istana menatap lelaki yang baru saja menyampaikan pengakuannya itu.
“Bukankah kamu putra La Pagala?” tanya salah seorang pengawal.
“Benar, saya anak dari La Pagala. Saya siap menjalani hukuman apapun meskipun saya putra dari penasihat kerajaan Sidenreng ini.”
Kedua pengawal kerajaan itu kemudian pergi. Keduanya pulang membawa cemas karena mereka ragu seorang Nenek Mallomo bersedia menghukum mati anaknya, dan jika itu tidak dilakukan, kemarau panjang semakin tak berujung.
***
Raja La Patiroi duduk di singgasananya dengan tatapan kosong jauh ke depan. Penyebab kemarau panjang itu telah ditemukan. Selain laporan dari pengawal kerajaan, lelaki yang mencuri kayu pun telah datang menghadap untuk memohon maaf dan menyatakan kesediannya diberi hukuman yang setimpal.
“Dia harus dihukum mati, Puang!”
Semua orang terdiam mendengar kalimat untuk sang raja. Kalimat itu keluar dari mulut Nenek Mallomo. Beberapa pengawal yang berdiri di sisi kanan singgasana refleks saling tatap lalu memfokuskan lagi tatapan ke depan. Raja La Patiroi yang mendengar kalimat itu, mengalihkan tatapan kosongnya ke mata Nenek Mallomo yang sedikit pun tak membalas tatapannya. Raja La Patiroi mencari air mata di mata teduh Nenek Mallomo yang bijak. Tapi tidak setetes pun, bahkan tak membuatnya berkaca-kaca.
“Kamu tega, La Pagala?”
“Mohon maaf, Puangku La Patiroi. Bukan persoalan tega atau tidak. Ini persoalan hukum adat. Ade’ temmakkeana’ temmakeappo[6].”
Saoraja ditelan sunyi. Tak ada suara kecuali suara hati masing-masing. Seikhlas apapun Nenek Mallomo menjatuhkan hukuman mati ke anaknya, dari balik dadanya tetaplah terdengar suara tangis yang tak seorang pun bisa mendengarnya. Dia harus berkeputusan. Memutuskan melukai dirinya sendiri karena jika itu tak dilakukannya, sama halnya dengan bunuh diri. Anaknya telah membuat seluruh negeri menderita, bahkan seisi negeri akan mati karenanya, jika dia tak dihukum mati.
“Tapi, La Pagala, anakmu memang mengaku mencuri sebatang kayu untuk memperbaiki mata garunya, tapi menurut pengakuannya juga, kayu yang dicurinya itu, sebelumnya adalah batang kayu yang menjulur ke tanah miliknya. Apa itu bisa disebut mencuri?”
Puangku La Patiroi, Sebelum pengakuannya di Saoraja ini, dia juga telah menemuiku dan menjelaskan kejadiannya. Kesalahan terbesarnya karena kayu yang diambilnya itu adalah batang kayu yang disandarkan di pohon. Itu berarti, batang kayu itu ada pemiliknya. Bukan kayu yang tergeletak.”
Raja La Patiroi terdiam. Tak bisa bersuara hingga Nenek Mallomo mengambil langkah ke depannya, menunduk takzim, lalu memilih melangkah mundur dari hadapannya hingga tangga Saoraja.
“Pengawal, siapkan pasukan kerajaan untuk mengeksekusi hukuman mati untuk anak La Pagala!” titah raja La Patiroi saat Nenek Mallomo telah menghilang dari depan singgasana.
Iyye’[7], Puang!”
****
Di bawah langit terik, di atas tanah Sidenreng yang telah retak, lelaki itu berserah diri dalam pejaman mata. Dia tahu dirinya akan dipancung entah di menit keberapa, tapi dalam pejaman matanya dia tak membayangkan algojo kerajaan dengan alat pancungnya. Baginya, inilah takdirnya. Tuhan telah menggariskan untuknya menjadi tumbal demi keselematan negeri. Sekali pun, dia tak pernah terpikirkan mencuri, batang kayu yang diambilnya benar-benar dianggapnya bisa dia miliki karena sebelumnya batang kayu itu menjulur ke sawahnya. Tapi karena di mata Tuhan itu adalah dosa, dikirimlah kemarau panjang itu untuk memberi teguran.
Keikhlasan menerima hukuman membuatnya hanya tersentak sekali ketika pedang menyentuh kulit lehernya, hingga kepala lelaki itu terpisah dari tubuh. Kepala itu seperti buah majah yang jatuh dari pohonnya lalu tergeletak begitu saja. Darah mengalir deras membasahi tanah kering. Sebelum darah mengering, angin datang membawa awan gelap. Langit cerah tiba-tiba pekat berkilat. Guntur bergemuruh, lalu hujan deras turun menyatukan semua retak-retak tanah. Kemarau panjang menemukan ujung. Rakyat berlari turun ke sawah menyusuri pematang serupa berpesta dengan tarian hujan.
Tumbuhan menghijau kembali, ternak gemuk beranak-pinak lagi. Kerajaan Sidenreng kembali sejahtera dan berkeadilan seperti semula.
****
Ratusan tahun berlalu setelah kemarau panjang itu berakhir. Kerajaan Sidenreng yang kini telah menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan. Bahkan di Allakkuang, kampung yang dikenal sebagai kampung Nenek Mallomo, masih terdapat sumur Citta yang mata airnya tak pernah kering hingga kini. Nama anaknya yang telah dikorbankan memang tak tercatat dalam lontara tapi petuah-petuah Nenek Mallomo sebagai penasihat kerajaan tak bisa terhapus dari memori rakyat turun-temurun meskipun semua lontara yang mencatatnya kelak telah punah.
Saking legendarisnya seorang Nenek Mallomo, namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit di kota kabupaten. Bahkan beberapa warga beranggapan bahwa Nenek Mallomo sebenarnya adalah tomompo atau orang yang tiba-tiba muncul di Kerajaan Sidenreng sebagai penggembala kerbau karena tak ada seorang pun yang tahu asal-usulnya. Pernyataan bahwa Nenek Mallomo adalah penggembala diperkuat oleh nama-nama kampung yang ada di Sidenreng Rappang yakni, Lawa Tedong (kandang kerbau), Lainungan (tempat meminumkan gembala), Amparita/Ampiretta (Gembala), dan Allakkuang (tempat istirahat gembala). Namun dari manapun dan ke manapun silsilah keturunan Nenek Mallomo bergaris, dia telah melegenda sebagai cendikia, sebagai penasihat kerajaan yang saat itu berkedudukan sebagai hakim, dan kisahnya benar-benar pernah ada.
****

[1] (Bugis) Kerja keras tanpa kenal lelah akan mendatangkan rahmat Tuhan. (Kalimat Nenek Mallomo yang paling terkenal bahkan tertulis dengan aksara Lontara di depan kantor Bupati Sidenreng Rappang).
[2] (Bugis) Kayu yang dipasang di pundak kerbau bajakan, untuk menarik tenggala atau garu.
[3] (Bugis) Panggilan untuk ningrat
[4] (Bugis) istana
[5] (Bugis) Tuhan yang Esa
[6] (Bugis) Adat tak mengenal anak dan cucu. Kalimat ini adalah salah satu kalimat Nenek Mallomo yang melegenda hingga sekarang di Kabupaten Sidenreng Rappang.
[7] (Bugis) Iya



Bertukar Tempat
Majalah Bobo No.51/XXXVI, 26 Maret 2009

Dina dan Dini adalah saudara kembar. Wajah mereka sangat mirip. Model rambut mereka juga sama. Apalagi mereka sering memakai pakaian yang sama. Walaupun begitu, sifat mereka agak berbeda. Dina agak pemalu dan pendiam. Ia pintar di kelas. Sementara Dini lincah dan banyak bicara. Di kelas prestasinya sedang-sedang saja.
Dini dan Dina bersekolah di tempat yang berbeda. Mama papa mereka ingin mereka memiliki pengalaman dan teman yang berbeda. Mereka juga tak ingin guru dan teman-teman di sekolah bingung membedakan Dina dan Dini.
Suatu malam ketika sedang belajar di kamar, tiba-tiba Dini berkata pada Dina. “Eh, Na. Besok kita tukaran tempat yuk!”
“Tukaran tempat bagaimana maksudmu?” tanya Dina tak mengerti.
“Kamu nanti masuk ke sekolahku dan aku masuk sekolahmu. Kita tukaran seragam dan tas sekolah. Aku yakin orang-orang tidak akan tahu. Aku ingin merasakan bagaimana suasana belajar di sekolahmu.”
“Ah, takut ketahuan, Ni! Lagi pula aku tidak kenal teman-temanmu dan guru-gurumu,” kata Dina panik.
“Tenang saja! Nanti aku kasih tahu, siapa nama teman-temanku di kelas dan siapa guru-guruku. Kamu tenang saja. Pokoknya, pasti asyik, deh!”
Karena terus dibujuk saudaranya, akhirnya Dina setuju. Pagi itu, Dini dan Dina buru-buru berangkat ke sekolah. Mereka tak mau rencana mereka ketahuan Mama. Sesuai rencana yang telah disepakati, Dina berangkat ke sekolah Dini. Dan begitu sebaliknya.
Ketika memasuki ruang kelas, Dina berpapasan dengan teman-teman Dini. Mereka menyapanya. Dina membalas sapaan mereka. Tidak ada seorang pun yang curiga. Ternyata teman-teman Dini berhasil dikecohnya. Dina duduk di bangku yang biasa diduduki Dini.

“Ni, kamu sudah bikin PR, belum?” Tiba-tiba seorang anak perempuan yang memakai pita merah bertanya. Dia pasti Riana, batin Dina.
“PR apa?” tanya Dina, karena ia memang tidak tahu. Dini tidak memberitahu kalau ada PR.
“PR Matematika. Masak lupa?”
“Oh ya.” Dina buru-buru membuka tas dan memeriksa buku PR matematika Dini. Ternyata Dini belum mengerjakan PR.
Huh, Dini rupanya ingin mengerjai aku. Dia minta aku menggantikan tempatnya, karena dia belum mengerjakan PR. Untung Riana mengingatkannya. Dina mulai jengkel pada Dini.
Terpaksa Dina mengerjakan PR Dini. Ketika bel tanda masuk berbunyi, PR matematika itu sudah selesai dikerjakannya. Dina berharap, tidak ada lagi kejadian yang bikin hatinya kesal. Dia juga berharap jam sekolah segera berakhir. Ia ingin buru-buru marah pada Dini.
Akan tetapi, harapannya tidak terkabul. Pada jam pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba Dina diminta maju ke depan oleh Pak Guru. Dengan agak gugup dan bingung Dina melangkah ke muka kelas. Dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Kemarin kan, kamu tidak membuat PR Bahasa Indonesia. Dan sebagai hukuman, Bapak kemarin memberimu tugas membuat puisi. Apa sudah kamu bikin? Sekarang, ayo bacakan puisi karya kamu itu!” ujar Pak Guru tegas.
Ya, ampun! Kok jadinya begini, gerutu Dina dalam hati.
Tiba-tiba Dina sadar, kalau Dini sebenarnya sedang mengerjai dirinya. Dini sengaja mengajak bertukar tempat karena dia malas dan tidak mau mengerjakan tugasnya. Untunglah Dina suka menulis puisi. Dengan mudah ia menciptakan puisi dadakan.
Pulang dari sekolah, Dina tak bisa menahan diri lagi. Ia langsung marah-marah pada Dini. Juga melaporkan perbuatan Dini kepada Mama.
Mama akhirnya menegur Dini. Walaupun begitu, Dina juga kena teguran.
“Lo, Mama, kok, marah sama Dina juga? Dina kan sudah jadi korban perbuatan Dini,” kata Dina membela diri.
“Kamu juga salah! Kalau kamu tidak menerima ajakan Dini, tentu kejadian ini tak akan terjadi. Kalian telah bekerja sama melakukan kebohongan. Ingat, berbohong itu bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga diri sendiri. Orang yang suka berbohong tidak akan dipercaya orang lain!” tegas Mama.
“Maafkan Dina, Ma. Dina janji tidak akan mau diajak berbohong lagi!”
“Dan kamu Dini. Kalau ada kesulitan atau masalah, jangan dipendam sendiri. Apalagi dibebankan pada orang lain. Itu namanya tidak bertanggung jawab. Lebih baik berterus terang dan tak perlu malu untuk meminta tolong. Mengerti?” ujar Mama kepada Dini.
Dini mengangguk. Ia merasa bersalah dan menyesal. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi!











Pengamen Bindeng

“Lihat nih aku dapat uang banyak!” kata Udin beberapa saat sesudah turun dari bus kota. Rupanya dia baru aja mengamen. Uang receh dan uang kertas di dalam bekas bungkus permen di genggamannya terlihat penuh. Wajah anak itu berbinar senang.

“Wah, pasti kamu nyanyinya bagus banget sehingga penumpang kasih kamu uang banyak!” kata Genta, tukang semir sepatu, teman Udin.

Mereka selalu berkumpul di perempatan jalan dekat terminal untuk beristirahat. Genta sehari harinya adalah penyemir sepatu di warung warung sekitar terminal. Sedangkan Udin, Bambang dan Leman mengamen sendiri sendiri..

“Begitulah!” kata Udin gembira sambil menghitung uangnya. Genta terlihat senang juga melihat hasil yang didapat Udin, Ibu Udin saat ini sedang sakit, dia perlu uang banyak untuk berobat karena itu sudah seminggu ini Udin mulai ikut mengamen di dalam Bus.

“Padahal kamu ngamen nggak pakai alat musik ya, Din?” cetus Leman heran, “Terus kamu nyanyi cuma pakai tepuk tepuk tangan saja ya?”

Leman sendiri mengamen dengan menggunakan gitar kecil pemberian mendiang kakeknya. Suara Leman bagus sekali dan ia sangat mahir memainkan gitar kecil itu. Tetapi uang yang didapatnya tidak pernah sebanyak yang didapat Udin setiap hari.

Mereka berempat adalah teman satu sekolah dan rumah mereka berdekatan, ketika mereka tahu Ibu Udin sakit, mereka menganjurkan Udin untuk ikut mengamen atau jadi penyemir sepatu di terminal. Udin menerima ajakan teman temannya.

“Tuh Bambang datang, kok dia lesu amat…” tunjuk Genta pada temannya yang terlihat baru turun dari Bus.
“Lesu,Bang?”
“Yaah, mungkin karena suaraku nggak bagus yaa jadi nggak banyak yang kasih aku uang, lagian katanya Bang Poltak kondektur PPD ada pengamen yang suaranya bindeng yang ngamen sebelum aku, penumpang semua kasihan sama dia…”
Genta dan teman temannya berpandangan,”Pengamen Bindeng??”
Bambang mengangguk, “Sebetulnya sih bukan ngamen, suaranya aja hampir nggak ada katanya…jadi orang kasihan sama dia…”
“Yang mana ya orangnya? Aku kok nggak pernah lihat? Kalian pernah lihat?” tanya Udin. Genta dan Leman menggeleng. Tetapi memang begitu banyak pengamen di terminal ini, tidak semua yang mereka kenal.

Genta berlari lari menyetop Bus Mayasaribakti yang merapat di halte. Dia mau ke daerah Tebet, ke rumah Pakde Santoso yang mau hajatan sunat Rio, sepupunya. Dia diminta datang menginap.

Ia duduk di kursi belakang, terhimpit himpit oleh penuhnya penumpang. Genta sudah terbiasa turun naik Bus kalau kemana mana. Meskipun baru berusia sepuluh tahun tapi dia tidak pernah takut pergi sendirian.
Di halte berikutnya Bus terasa merapat. Genta tidak bisa melihat keluar karena terhalang penumpang penumpang dewasa yang berdiri.

Dari arah depan Bus kemudian terdengar suara-suara aneh. Suara bindeng, seperti orang bisu yang berusaha mengeluarkan suara. Antara sengau dan bindeng. Genta berusaha melongok ke arah suara itu tapi tidak bisa.
“Kasihan ya, bindeng begitu masih berusaha ngamen…” kata seorang Bapak yang berdiri dekat Genta.
“Ooh pengamen ya Pak…” ujar Genta mengangguk ngangguk. Mungkin pengamen ini yang kemarin diceritakan Bambang. Dilihatnya seusai pengamen itu menyanyikan lagu yang tidak jelas bunyinya, orang-orang kelihatan mengeluarkan uang receh mereka untuk siap-siap diberikannya pada pengamen bindeng itu.

Pengamen itu terdengar menggoyangkan kantong uangnya yang sudah berisi uang receh. Genta juga sudah menyiapkan uang logam seratus rupiah untuk diberikan pada pengamen itu.

“Te..i..ma.a..iih” terdengar suara pemngamen itu berusaha mengucapkan terimakasih pada penumpang yang memberinya uang.
Ketika pengamen itu menyeruak diantara rapatnya penumpang di belakang, Genta kaget bukan main. Pengamen itu juga terlihat sangat terkejut melihatnya.
“Udin…?” desis Genta terpana.

Udin yang mengenakan topi lusuh dan baju yang sebagian sudah robek langsung bergegas menembus penumpang lalu melompat turun dari pintu belakang ketika Bus merapat ke halte berikutnya.

Genta juga begegas turun di halte tersebut.
“Din!!!” dia berlari mengejar Udin yang berusaha menghindarinya di halte.
Ketika langkahnya sudah menjajari Udin, Genta menarik lengan temannya ke pinggir dimana tidak begitu banyak orang di sana.
Udin menunduk malu.
“Jadi begitu cara kamu ngamen, Din?”tanya Genta” Pantas orang banyak kasih kamu uang…”
Udin mengangguk, “Iya Gen,…soalnya aku nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik juga, jadi aku berpura pura jadi pengamen bindeng aja…”
“Tapi itu namanya menipu, Din…” ujar Genta prihatin menyadari apa yang telah dilakukan Udin,
“Dan itu dosa. Kalau kamu nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik, kamu kan bisa nyemir kayak aku….asal Halal…”
“Tapi aku perlu banyak uang untuk Ibu!” kata Udin sengit.
“Tapi kan bisa dicari dengan cara yang Halal, Din… Allah Maha Mengetahui kok. Kalau kamu sudah berusaha sebaik-baiknya, dengan cara yang di ridhoi Allah, Allah pasti akan kasih kamu jalan… itu yang dibilang Ustad Adam, inget nggak?” tukas Genta, “Kalau dengn cara menipu orang seperti ini, Allah malah marah Din…”

Udin terdiam. Sebetulnya jauh di dalam hatinya dia juga tidak ingin melakukan ini. Tetapi setiap kali teringat wajah pucat Ibunya, ia jadi tidak perduli dengn jalan yang ditempuhnya.
“Sudah lah, Din… aku juga nggak mau memaksa kamu kok… Yang penting aku sudah ngingetin kamu… bahwa yang kamu tempuh ini salah… Sudah ya, aku mau melanjutkan perjalanan ke rumah Pakde ku…. ”kata Genta sambil bergegas meninggalkan Udin yang masih menunduk.

“Gen!!” panggil Udin ketika Genta sudah agak menjauh, “jangan bilang teman-teman yang lain ya… aku malu… Mulai besok aku boleh ikut nyemir bareng kamu?”
Genta mengangguk pasti, “Tentu Din! Aku masih punya kotak semir cadangan di rumah, kamu bisa pakai dulu…”

Seminggu kemudian ketika Genta dan teman temannya sedang beristirahat di perempatan jalan seperti biasa, Genta mendengar Bambang bicara pada Leman.
“Heran, kata Bang Poltak, pengamen bindeng itu seminggu ini sudah nggak kelihatan ngamen lho, Man..”

Udin memandang Genta dengan pandangan berterimakasih karena Genta tidak menceritakan apa yang diketahuinya pada teman temannya

Share:

0 komentar:

Posting Komentar